![]()
Banyak cara menuju syurga, namun di balik
itu banyak jalan justru membawa manusia
menuju ke neraka.
Niatnya baik, tapi cara
atau metodenya salah, niatnya mengajak
orang beriman dan bertaqwa kepada Allah
SWT, tapi cara yang digunakannya mencaci
maki, menghina dan memburuk-burukan
pihak lain yang tak sepaham dengannya.
Seakan syurga dia yang punya dan pihak lain
yang tak sepaham dengannya masuk neraka
semuanya.
Jadi kebenaran ada di tangannya
sendiri, pihak lain yang sama-sama muslim
ketika berbeda pendapat dengannya justru
dimaki-maki, dihina dijadikan bahan
gunjingan yang mengaksyikan, dengan kata-
kata kasarnya saudaranya sesama
muslim dibantainya,dipermalukan di depan
umum.
Menyedihkan, dakwahnya bukan
mengajak, tapi mengejek.
Maka dari itu Yahya Ar Razi pernah
mengatakan, hendaknya orang mukmin
mendapat keuntungan dari anda minimal
tiga hal:
1. Apabila anda tidak memberikan
manfaat padanya, janganlah anda
merugikannya.
2. Apabila anda tak dapat
membahagiakannya, maka janganlah
menyusahkannya.
3. Apabila anda tak memujinya, maka
janganlah mencelanya.
Itulah pedoman singkat bagi kita ummat
Islam untuk menghormati saudara sesama
muslim yang tidak sepaham atau tidak
sejalan dengan pemikiran atau pendapat kita,
agar dalam naungan Islam, manusia dapat
menjadi permata hati, selamat hatinya,
terlepas dari rasa iri dan dengki, serta bersih
dari sikap hasud dan benci, apalagi sampai
mencaci maki, mecela dan menyakiti.
Islam adalah agama pertengahan yang selalu
menjaga diantara yang radikal dengan yang
lemah, Islam adalah agama pertengahan,
agama yang selalu menjujung tinggi
kebaikan dan tak mudah menyelahkan pihak
lain atau orang lain yang seiman.
Nabi adalah semulia-mulia manusia, Beliau
mengajarkan kepada kita semua untuk
berlaku lemah lembut dan tak mudah
mengkafirkan sesama muslim, apapun
perbedaan pendapat dan mazhabnya. Islam
disebarkan dengan kelembutan bukan dengan
kekerasan dan menghina paham orang lain
atau kelompok lain yang berbeda pendapat.
Nabi tak pernah mengajarkan untuk memaki
pihak lain, menghina pihak lain dan mudah
mengkafirkan orang lain yang sama-sama
akidahnya, sama-sama syahadatnya, sama
dalam gerakan dan bacaan sholatnya, sama
iman dan Islamnya, sama dengan tata cara
zakat, puasa dan hajinya.
Bila seandainya
pun berbeda, mereka juga punya dalil sendiri,
yang bisa saja benar. Tak mengklaim
kebenaran milik pribadi, kebenaran
datangnya dari allah SWT .
Dan yang mutlak
benar hanya Allah SWT dan rosulnya,
sedangkan kebenaran manusia itu relative
adanya.
Abu Bakar Siddiq ketika dilantik menjadi
khalifah berkata: Aku telah diangkat oleh
kalian menjadi pemimpin kalian, dan aku tak
lebih baik dari kalian, maka bila aku benar
ikutilah aku, dan bila aku salah luruskan
aku.
Sebuah sikap yang mata bijaksana dari
seorang pemimpin yang rendah hati, yang tak
merasa paling benar sendiri, yang tak merasa
hebat sendiri dan dengan rendah hati minta
diluruskan bila melakukan kesalahan.
Bukan merasa diri paling hebat dan
menyalahlan pihak lain yang tak sepaham
dengannya, bahkan berani mengklaim diri
paling benar penuh dengan emosional,
menghantam pihak lain yang tak sependapat
dengannya.
Islam adalah agama buat semua
orang, buat semua golongan dan pada
awalnya Islam tak bermazhab. Dan bilapun
ada mazhab yang empat itu, bukan malah
saling menyalahkan, tapi saling melengkapi
dan saling mengisi penuh dengan simpati,
toleransi dan empati.
Kalau sesama muslim
saja saling bermusuhan, bagaimana dengan
pihak lain akan menghormati ummat Islam?
Pantas saja Islam tak maju-maju, karena
ummatnya sering kali berseteru.Islam disebarkan oleh nabi dengan
kelembutan, bukan dengan kekerasan dan
kebencian. Jikapun dapat dibenci dan dicaci
maki, Nabi terus saja berdakwah dengan
penuh kelembutan dan tidak dengan caci
maki dan penghinaan, dan yang tidak
mengikuti ajaran nabi, didoakan agar
mendapat hidayah.
Nabi selalu optimis jika
bukan sekarang, mungkin nanti di masa
akan datang anak cucu mereka akan
mengikuti ajaran Islam dan beriman kepada
Beliau. Dan ternyata benar, ingat kisah
penyebaran Islam di Thaif, Nabi bukan
disambut tapi disambit dengan batu, namun
Nabi bukan mengutuk mereka, tapi
mendoakannya.
Nabi telah mencotohkan dalam penyebaran
Islam dengan kasih sayang, bukan dengan
kekerasan dan pedang terhunus, apa lagi
dengan cara anarkis dan sebentar-sebentar
merusak dan menghancurkan, wah ini jauh
dari akhlak yang diajarkan Nabi.
Sesungguhnnya Islam adalah agama kasih
sayang, agama yang penuh dengan
kelembutan dan cara mengajaknyapun
dengan lemah lembut, bukan dengan
kekerasan. Dan bilapun ada yang iri, dengki
maka dihadapi dengan tabah, sabar dan
ikhlas.
Beliau kembalikan seluruh urusan
kepadaNya, Sang Penguasa Alam Semesta,
Penguasa langit dan bumi, Dialah Allah SWT.
Orang bijak pernah berkata:
Bersabarlah terhadap kedengkian orang yang
dengki
Karena sesungguhnya kesabaranmu akan
memadamkannya
Api akan memakan dirinya sendiri
Apabila tidak menemukan sesuatu yang
dimakannya.
Itulah yang dikatakan orang bijak dan Bilau
bersabda: Janganlah kalian saling
mendengki, saling membenci, mancari cacat
orang lain, dan janganlah membujuk rayu
dengan tipuan. Jadilah kalian hamba-hamba
Allah yang bersaudara ( HR Bukhori dan
Muslim).
Seorang pendengki dan pencaci maki apabila
melihat anda, maka dia akan mendengki
anda. Apabila anda tidak ada, maka dia akan
menggunjingkan anda.
Kedengkian terkadang
muncul dalam kritikan, dan membuka aib
orang lain. Orang-orang yang dengki akan
merasakan nikmat yang luar biasa dengan
menyebarkan cacat dan membuka aib orang
lain di tengah orang banyak dan tertawa
dengan senangnya.
Seakan kebenaran adalah
miliknya sendiri, orang lain salah semua.
Seperti syurga dia yang punya, orang lain
semua masuk neraka, karena tak sepaham
dengannya.
Sesama muslim dikafirkannya. Orang yang
sama-sama mengucapkan syahadatpun
disalahkannya, Orang belum sholat bukan
diajaknya sholat tapi dihinakan, ya dia kabur!
Semua orang salah, salah dan salah, semua
orang Islam yang tak sejalan dengan
pemikirannya disalahkan.
Padahal para
imam Mazhab pun yang benar-benar ahli
dalam bidang fiqih tak berani menyalahkan
mazhab lainnya, mereka tetap rendah hati,
baik imam Syafi'I, Imam Maliki, Imam Hanafi
maupun imam Hambali.
Mereka para imam mazhab punya sifat
rendah hati yang luar biasa, tak mengklaim
mazhabnya paling benar sendiri, tak
mengklaim hasil pemikirannya benar sendiri,
bahkan mereka berkata: pendapatku benar,
tapi bisa saja salah, dan pendapat mereka
mungkin salah, tapi bisa juga benar karena
memang kebenaran yang hakiki hanya milik
Allah SWT, bukan milik manusia.
Penadapat
manusia bisa benar, bisa juga salah ,
kebenaran manusia bersifat relative, tidak
mutlak!
Dan orang lain tidak bisa dihina dan dicaci
maki karena pendapatnya berbeda dengan
anda. Bagaimanapun sesama muslim
bersaudara dan sebuah tuduhan yang keji,
bila sesama muslim dikafirkan hanya karena
berbeda pendapat, beda mazhab, beda
pemikiran, beda aliran, kecuali aliran sesat,
beda pemahaman dan lain sebagainya.
Lagipula bila sesama muslim masih hidup,
tak boleh divonis dia akan masuk neraka,
Mengapa? Karena Allah SWT yang membolak
balik hati manusia, Allah yang mengetahui
kesucian hati manusia, dan Allah pula yang
memberikan hidayah pada seseorang dan
kita tidak tahu akhir perjalan hidup orang
lain.
Bisa saja terjadi, dan ini banyak terjadi,
orang yang tadinya penjahat, lalu bertobat
dan ketika meninggal dalam keadaan khusnul
khotimah. Bisa saja orang yang tadinya baik
bisa menjadi penjahat, dan sebaliknya
seorang yang tadi penjahat kemudian tobat
lalu menjahit imannya yang koyak-koyak
hingga utuh kembali. Dan bisa saja terjadi
orang yang tadinya sholeh bisa salah, dan
orangnya yang tadinya salah menjadi sholeh,
lalu mati dalam keadaan khusnul khotimah,
mati dalam keadaan baik.
KH Saifudin Amsir, Rs Suriah PBNU ketika
ditanya tentang orang yang berdakwa melalui
mimbar Jum'at mengatakan; Khutbah
Jum'at bukan kendaraan untuk meluapkan
emosi. Gunakan khutbah Jum'at sebagai
sarana pendidikan Islam, perbanyak nasehat,
menguatkan keimanan dan mengajak
ketaqwaan. Jangan mengatakan yang tak
pantas dalam khutbah Jum'at , seorang
khotib tak boleh membawa urusan politiknya,
kepentingan pribadinya dan kelompoknya di
atas mimbar Jum'at. Kalau ada orang yang
mudah menyalahkan kelompok lain di
mimbar khutbah, dia telah gegabah
membaca agama . Ini Bahaya! Bila
khutbahnya berisi serangan pada mazhab
lain, itu perilaku absurd, baik dari sisi syariat
ataupun metode dakwah
Jadi mengajak orang kepada Islam lagi-lagi
harus dengan kelembutan , kalimat
disampaikan adalah ajakan, bukan ejekan,
amanah bukan amarah, rendah hati bukan
emosi, berbagi bukan mengusili, menyejukan
bukan membuat hati pana s dan seterusnya.
Itulah dakwah yang hakiki, dakwah yang
membuat orang menjadi sejuk di dalam
masjid, mushollah atau di dalam pengajian,
sehingga ketika mereka pulang kerumah,
mereka makin dekat kepada Allah SWT,
bukan malah lari dari Allah, karena salah
metode yang menyampaikan.
Islam adalah agama rakhmatan lil alamin,
rakhmat bagi seluruh alam. Kalimat ini akan
menjadi boomerang manakala cara
mendakwahkannya penuh dengan amarah,
caci maki, penuh hinaan pada pihak lain dan
dengan punuh dengan kata-kata
mengkafirkan pada sesama muslim yang
tidak sepaham.
Bila cara ini terus berlanjut,
pantas saja Islam tidak maju-maju, karena
ummatnya tak mau bersatu dan membatu.
Oleh : Syaripudin Zuhri
Sumber :
Era Muslim.Com