• MUHASABAH

    Saat Status Berubah

  • KISAH ULAMA

    Shalahuddin: Pahlawan yang Dihormati Kawan dan Lawan

  • CINTA

    Aku Sebut Ini Cinta

  • HIKMAH

    Sayangi yang Ada di Bumi, Engkau Disayangi Penduduk Langit

  • KELUARGA MUSLIM

    Jalan Panjang Bernama Pernikahan

Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan

Aral Melintang dalam Menuntut Ilmu

0 komentar
Sobat ikhwah yang selalu dimuliakan oleh Allah Ta'ala, ketahuilah bahwa menuntut ilmu itu berat aral rintangannya, tidaklah semudah yang di angan2kan....

Dalam menuntut ilmu syar’i diperlukan kesungguhan.Tidak layak para penuntut ilmu bermalas-malasan dalam mencarinya. 
Kita akan mendapatkan ilrnu yang berrnanfaat -dengan izin Allah- apabila kita bersungguh-sungguh dalam menuntutnya.

Imam asy-Syafi’i rahimahullaah pemah mengatakan dalam sya’irnya,
Saudaraku, engkau tidak akan mendapat ilmu, melainkan dengan enam perkara.
Kukabarkan kepadamu rinciannya dengan jelas
Kecerdasan, kemauan keras, bersungguh-sungguh, bekal yang cukup, bimbingan ustadz, dan waktunya yang lama.[Diwaan lmam asy-Syafi’i (hal. 378). Cet. Daml Fikr, th. 1415 H.]

Yang jadi pertanyaan, kenapa seorang mau untuk sungguh2 kuliah demi pencapaian karir dunianya smentara ia tidak sungguh2 tuk thalabul ilmi demi pencapaian klimaks akhirnya di akherat.....

Wallahul musta'an...
 

Read More »

Berjuanglah untuk Islam, Walau Anda Pelaku Maksiat

0 komentar
Saudaraku …
Apa yang kau anggap atas dirimu sendiri?
Begitu banyakkah dosa dan noda?

Ketahuilah, setiap manusia –siapa pun dia- juga memiliki kesalahan, dan sebaik-baik manusia yang membuat kesalahan adalah yang mau bertaubat. Mari jadilah yang terbaik…

Saudaraku …
Apa yang menghalangimu membela agamamu?
Apa yang merintangimu beramal demi kejayaan Islam dan kaum muslimin?
Dosa, noda, dan maksiat itu?

Ketahuilah, jika kau diam saja, tidak beramal karena merasa belum pantas berjuang, masih jauh dari sempurna, maka daftar noda dan maksiat itu semakin bertambah. Itulah tipu daya setan atas anak Adam, mereka menghalangi manusia dari berjuang dan hidup bersama para pejuang, dengan menciptakan keraguan di dalam hati manusia dengan menjadikan dosa-dosanya sebagai alasan.

Saudaraku …
Hilangkan keraguanmu, karena Rabbmu yang Maha Pengampun telah berfirman:

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapuskan keburukan-keburukan. (QS. Hud: 114)

Hilangkan pula kebimbanganmu, karena kekasih hati tercinta, Nabi-Nya yang mulia –Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam- telah bersabda:

وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا

Ikutilah perbuatan burukmu dengan perbuatan baik, niscaya itu akan menghapuskannya. (HR. At Tirmidzi No. 1987, katanya: hasan shahih. Ahmad No. 21354, 21403, 21487, 21536, 21988, 22059, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 296, 297, 298, juga Al Mu’jam Ash Shaghir No. 530, Ad Darimi No. 2833, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 178, katanya: “Shahih, sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim.” Disepakati oleh Imam Adz DZahabi dalam At Talkhish. Sementara Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Syaikh Al Albani menghasankannya dalam kitab mereka masing-masing)

Saudaraku …
Tidak usah berkecil hati dan jangan putus asa, sungguh agama mulia ini pernah dimenangkan oleh orang mulianya dan para fajir (pelaku dosa)nya. Semuanya mengambil bagian dalam gerbong caravan pejuang Islam.

Imam Al Bukhari telah membuat Bab dalam kitab Shahihnya, Innallaha Yu’ayyidu Ad Diin bir Rajul Al Faajir (Sesungguhnya Allah akan menolong agama-Nya melalui seseorang yang fajir).

Ya, kadang ada pelaku maksiat, seorang fajir, justru dia melakukan aksi-aksi nushrah (pertolongan) terhadap agamanya, dibanding laki-laki yang shalih.

Semoga aksi-aksi nushrah tersebut bisa merubahnya dari perilaku buruknya, dan dia bisa mengambil pelajaran darinya sampai dia berubah menjadi orang shalih yang berjihad, bukan lagi orang fajir yang berjihad.

Saudaraku … Ada Abu Mihjan!!
Kukisahkan kepadamu tentang Abu Mihjan Radhiallahu ‘Anhu. Ditulis dengan tinta emas para ulama Islam, di antaranya Imam Adz Dzahabi dalam Siyar A’lamin Nubala pada Bab Sirah Umar Al Faruq. (2/448. Darul Hadits, Kairo), juga Usudul Ghabah-nya Imam Ibnul Atsir. (6/271. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Beliau adalah seorang laki-laki yang sangat sulit menahan diri dari khamr (minuman keras). Beliau sering dibawa kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk diterapkan hukum cambuk (Jild) padanya karena perbuatannya itu.

Bahkan Ibnu Jarir menyebutkan Abu Mihjan tujuh kali dihukum cambuk. Tetapi, dia adalah seorang laki-laki yang sangat mencintai jihad, perindu syahid, dan hatinya gelisah jika tidak andil dalam aksi-aksi jihad para sahabat nabi Radhiallahu ‘Anhum.

Hingga datanglah perang Al Qadisiyah yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqash Radhiallahu ‘Anhu melawan Persia, pada masa pemerintahan Khalifah Umar Radhiallahu ‘Anhu. Abu Mihjan ikut andil di dalamnya, dia tampil gagah berani bahkan termasuk yang paling bersemangat dan banyak membunuh musuh.

Tetapi, saat itu dia dikalahkan keinginannya untuk meminum khamr, akhirnya dia pun meminumnya. Maka, Sa’ad bin Abi Waqash menghukumnya dengan memenjarakannya serta melarangnya untuk ikut jihad.

Di dalam penjara, dia sangat sedih karena tidak bisa bersama para mujahidin. Apalagi dari dalam penjara dia mendengar suara dentingan pedang dan teriakan serunya peperangan, hatinya teriris, ingin sekali dia membantu kaum muslimin melawan Persia yang Majusi. Hal ini diketahui oleh istri Sa’ad bin Abi Waqash yang bernama Salma, dia sangat iba melihat penderitaan Abu Mihjan, menderita karena tidak dapat ikut berjihad, menderita karena tidak bisa berbuat untuk agamanya!

Maka, tanpa sepengetahuan Sa’ad -yang saat itu sedang sakit, dan dia memimpin pasukan melalui pembaringannya, serta mengatur strategi di atasnya- Beliau membebaskan Abu Mihjan untuk dapat bergabung dengan para mujahidin. Abu Mihjan meminta kepada Salma kudanya Sa’ad yaitu Balqa dan juga senjatanya. Beliau berjanji, jika masih hidup akan mengembalikan kuda dan senjata itu, dan kembali pula ke penjara. Sebaliknya jika wafat memang itulah yang dia cita-citakan.

Abu Mihjan berangkat ke medan tempur dengan wajah tertutup kain sehingga tidak seorang pun yang mengenalnya. Dia masuk turun ke medan jihad dengan gesit dan gagah berani. Sehingga Sa’ad memperhatikannya dari kamar tempatnya berbaring karena sakit dan dia takjub kepadanya, dan mengatakan:  

“Seandainya aku tidak tahu bahwa Abu Mihjan ada di penjara, maka aku katakan orang itu pastilah Abu Mihjan. Seandainya aku tidak tahu di mana pula si Balqa, maka aku katakan kuda itu adalah Balqa.” 

Sa’ad bin Abi Waqash bertanya kepada istrinya, dan istrinya menceritakan apa yang terjadi sebenarnya pada Abu Mihjan, sehingga lahirlah rasa iba dari Sa’ad kepada Abu Mihjan.
Perang usai, dan kaum muslimin menang gilang gemilang. Abi Mihjan kembali ke penjara, dan dia sendiri yang memborgol kakinya, sebagaimana janjinya. Sa’ad bin Waqash Radhiallahu ‘Anhu mendatanginya dan membuka borgol tersebut, lalu berkata:

لا نجلدك على خمر أبدا فقال: وأنا والله لا أشربها أبدا

Kami tidak akan mencambukmu karena khamr selamanya. Abu Mihjan menjawab: “Dan Aku, Demi Allah, tidak akan lagi meminum khamr selamanya!”

Saudaraku ….
Sangat sulit bagi kita mengikuti dan menyamai Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan para sahabat nabi yang mulia, Radhiallahu ‘Anhum.

Tetapi, paling tidak kita masih bisa seperti Abu Mihjan, walau dia pelaku maksiat namun masih memiliki ghirah kepada perjuangan agamanya, dan ikut hadir dalam deretan nama-nama pahlawan Islam.
 
Wallahu A’lam.



Oleh        : Farid Nu'man Hasan
Sumber    : Dakwatuna


Read More »

Syair Kerinduan Imam Syafi’i Kepada Tanah Gaza

0 komentar

gazaovernight1 Syair Kerinduan Imam Syafi’i Kepada Tanah GazaGAZA hari ini tidaklah sama dengan Gaza ratusan tahun lalu. Kota kecil di sudut Palestina itu telah menjadi saksi atas kelahiran para tokoh intelektual yang memiliki peran penting dalam dunia Islam. Salah satunya adalah Imam Syafi’i, ulama kenamaan ini adalah produk aseli Gaza.

Imam Syafi’i lahir di kediamannya Syaikh Attia, yakni di Zaitoun, tahun 150 H atau 767 M.

Nasab beliau telah bertemu dengan nasab Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam, yakni dari jalur kakek Rasulullah shalalllahu alaih wa salam, Abdul Manaf, seorang bangsawan paling mulia dari kalangan Quraisy.

Dikatakan bahwa Idris, ayahnya Imam Syafi’i rahimahullah, menyaksikan kelahiran Imam Syafi´i di Gaza, serta lama menetap di Gaza. Dari sinilah Imam Syafi’i membawa memori masa kecilnya di Gaza ketika melanglang buana mencari Ilmu. Tak pelak, ketika Imam Syafi’I berada, maka buah dari pendidikannya di Gaza akan selalu memancar yakni pendidikan, ketinggian adab, dan juga hafalan al-Quran ketika berusia sembilan tahun.

Imam Syafi’i kemudian melanjutkan pelajarannya ke Madinah al Munawarah. Di sana beliau belajar dalam asuhan Imam Malik rahimahullah. Imam Syafi’i pun juga sempat ke Kuffah belajar di bawah bimbingan beberapa murid Imam Abu Hanifah rahimahullah ajma´in.

Ketika melakukan perjalanan ke Irak dan Persia, beliau bertemu para ulama kembali menimba ilmu dari mereka. Perjalanannya lalu berlanjut ke Hijaz, Yaman, Baghdad dan Mesir hingga ajal menjemputnya pada tahun 204 H.

Hasil karya atas perjalanan keilmuannya pun melimpah ruah dan monumental. Katakanlah Ar Risalah, Al-Umm, dan kitab al-Musnad yang memuat hadits-hadits Nabi shalallahu alaihi wa salam.
Meski jejak berbagai peradaban dunia ditapaki semasa hidupnya, Imam Syafi’i sangat paham dari mana ia berasal. Tidak lain adalah tanah Gaza, tanah kelahirannya sehingga ia dapat tumbuh besar menjadi ulama. Ia pun mengaku rindu untuk kembali ke bumi Gaza, bumi yang kini menjadi saksi darah para Syuhada dalam menegakkan iman melawan agresi Zionis dan para sekutunya.

Aku merindukan tanah Gaza

Dan aku telah meninggalkan Gaza setelah dari persembunyianku.

Allah menyirami bumi Gaza, walaupun Gaza telah disiram dengan Zafarat¨
Beratnya kelopak mataku terlarut kerinduan.
 (Imam Syafi’i)


(Pz/Islampos/alwehda)

Read More »

Jalan Panjang Dakwah

0 komentar
Andai, saat ini kita terburu-buru dalam mendakwahi diri, ataupun orang lain. Mungkin saja kita lupa. Bahwa Adam 'Alaihis Salam sekalipun, tidak bisa mencegah anaknya –Qobil- membunuh saudaranya, Habil. 

Mungkin, ketika sekarang ini, kita merasa suntuk terkait dakwah yang kita galakkan, baik untuk diri atau untuk mereka yang kita sayangi, bisa jadi kita tengah lupa. Bahwa dulu, Nuh Alaihis Salam, yang berdakwah selama 950 tahun, 'hanya' bisa merangkul beberapa orang saja. Bahkan, istri dan anak yang sangat dicintainya, mati dalam keadaan kafir. Dalam kesombongan menentang Kemahakuasaan Allah. 

Jika saat ini, sebagai apapun, diri kita merasa jenuh lantaran dakwah yang kita lakukan terasa sia-sia, bisa jadi karena kita tidak ingat. Dulu, Luth 'Alaihis Salam, tidak bisa memberi hidayah kepada istri dan anaknya. Keduanya, dibinasakan lantaran melanggar apa-apa yang telah Allah perintahkan. 

Jika, diri merasa putus asa lantaran dakwah yang kita kerjakan, siang dan malam, seakan tak berbuah. Bisa jadi, kita mulai lupa. Bahwa Asiyah, tidak bisa mencegah suami tercintanya dari kekufuran. Bahkan, suami yang sangat dicintainya itu, mengaku sebagai Tuhan. Dan itu, adalah kejahatan yang sangat besar. 

Pun, dengan Ibrahim sang Khalil. Beliau yang menyejarah lantaran dakwahnya. Melawan Penguasa Kafir dengan hikmah, dilanjutkan dengan mendakwahi anaknya yang akhirnya menjadi Nabi panutan juga, dalam sejarah beliau, tercatat jelas. Bahwa Ayah kandungnya, adalah gembong kekafiran. Bahkan, ayahnya sangat 'hebat' lantaran profesinya : Pembuat 'Tuhan'. 

Begitupula dengan Muhammad Mulia, Junjungan kita. Beliau, tak kuasa menghadiahi hidayah kepada pamannya, Abu Thalib. Padahal, melalui 'tangan' dakwah beliau, tak terhitung banyaknya orang-orang yang berbondong menyembah Allah. 

Kesemua itu, adalah pelajaran. Bahwa tugas utama kita hanyalah mendakwahi. Menyampaikan ajaran. Pun, dengan cara yang telah Allah gariskan, dengan cara yang Rasulullah sunnahkan. Bukan selain itu. Kesemua itu bukan pula sebuah aib. Maka yang dialami oleh manusia-manusia mulia itu, oleh Adam, Nuh, Luth, Asiyah, Ibrahim dan Asiyah juga Rasulullah Alaihimus Salam, bukanlah aib. Bukan itu! Peristiwa itu, adalah sebuah pelajaran sangat berharga untuk diingat oleh semua da’i, di semua generasi. 

Teringatlah sebuah kisah. Fulan, namanya. Dia merantau dari kampong menuju Ibu Kota. Di Ibu Kota, dia mengikuti di rumah seorang Bos. Mualaf. Awalnya, si Fulan sempat dilarang untuk melaksanakan Shalat Berjama’ah di Masjid. Dengan alasan yang tak logis. Tapi Fulan, tak gentar. Tak mundur selangkahpun. 

Dibuatlah siasat. Ia ke Masjid ketika Bosnya tidur. Setiap hari. Ketika waktu shalat tiba, dan bosnya tengah terjaga, diurungkanlah pergi ke Masjid. Sebagai strategi pula. Tapi ketika Ruku’ dan Sujud di rumah, ia menangis. Mengadukan semuanya pada Sang Maha Kuasa. 

Hari berlalu, bulan berjalan. Tak terasa, terhitunglah tahun. Perlahan, si bos mulai menunjukkan simpatinya. Fulan terus berdoa, agar Allah berikah hidayah kepada bosnya. Ia juga bekerja dengan sepenuh hati. Sebisa mungkin mengukir prestasi, sebisa mungkin tak melanggar perintahnya. Hingga akhirnya, Fulan berhasil mengajak teman-temannya untuk berkumpul di rumah Bos. Sepekan sekali, kajian al-Qur’an. Sekedar melancarkan bacaan yang macet. 

Allah Maha Melihat. Allah Maha Kuasa. Hingga akhirnya, si Bos mulai belajar. Shalat Jum’at, Tarawih, Shalat Id, hingga belajar shalat Lima Waktu. Ditambah dengan berjama’ah di Masjid. Akhirnya, Fulan hanya terduduk dalam syukur, ketika suatu siang, ia berjalan bersama dengan Bosnya menyambut seruan Shalat Berjama’ah dari Masjid yang tak bosan menerima siapa saja yang mau mereguk hidayah.

Begitulah dakwah. Kadang, perlu retorika. Tapi dalam banyak kasus, teladan lebih diutamakan. Bahkan, teladan lebih utama dari ribuan taujih.

Semoga kita semakin mengerti. Bahwa dakwah, memang jalan panjang. Bukan isapan jempol apalagi kerja instan bagai sim salabim. 

Semoga kita juga semakin memahami. Bahwa dakwah bukan caci maki. Tapi berbagi hikmah. Memberi hikmah, dan segala tentang hikmah. Semoga kita tak pernah lupa, bahwa kita semua adalah Da’i sebelum sebagai apapun kita saat ini.



Oleh : Firman

Read More »

Dakwah itu Mengajak,bukan Mengejek

0 komentar

Banyak cara menuju syurga, namun di balik itu banyak jalan justru membawa manusia menuju ke neraka.

Niatnya baik, tapi cara atau metodenya salah, niatnya mengajak orang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, tapi cara yang digunakannya mencaci maki, menghina dan memburuk-burukan pihak lain yang tak sepaham dengannya. Seakan syurga dia yang punya dan pihak lain yang tak sepaham dengannya masuk neraka semuanya.

Jadi kebenaran ada di tangannya sendiri, pihak lain yang sama-sama muslim ketika berbeda pendapat dengannya justru dimaki-maki, dihina dijadikan bahan gunjingan yang mengaksyikan, dengan kata- kata kasarnya saudaranya sesama muslim dibantainya,dipermalukan di depan umum.

Menyedihkan, dakwahnya bukan mengajak, tapi mengejek.

Maka dari itu Yahya Ar Razi pernah mengatakan, hendaknya orang mukmin mendapat keuntungan dari anda minimal tiga hal:

1. Apabila anda tidak memberikan manfaat padanya, janganlah anda merugikannya.
2. Apabila anda tak dapat membahagiakannya, maka janganlah menyusahkannya.
3. Apabila anda tak memujinya, maka janganlah mencelanya.

Itulah pedoman singkat bagi kita ummat Islam untuk menghormati saudara sesama muslim yang tidak sepaham atau tidak sejalan dengan pemikiran atau pendapat kita, agar dalam naungan Islam, manusia dapat menjadi permata hati, selamat hatinya, terlepas dari rasa iri dan dengki, serta bersih dari sikap hasud dan benci, apalagi sampai mencaci maki, mecela dan menyakiti.

Islam adalah agama pertengahan yang selalu menjaga diantara yang radikal dengan yang lemah, Islam adalah agama pertengahan, agama yang selalu menjujung tinggi kebaikan dan tak mudah menyelahkan pihak lain atau orang lain yang seiman.

Nabi adalah semulia-mulia manusia, Beliau mengajarkan kepada kita semua untuk berlaku lemah lembut dan tak mudah mengkafirkan sesama muslim, apapun perbedaan pendapat dan mazhabnya. Islam disebarkan dengan kelembutan bukan dengan kekerasan dan menghina paham orang lain atau kelompok lain yang berbeda pendapat.

Nabi tak pernah mengajarkan untuk memaki pihak lain, menghina pihak lain dan mudah mengkafirkan orang lain yang sama-sama akidahnya, sama-sama syahadatnya, sama dalam gerakan dan bacaan sholatnya, sama iman dan Islamnya, sama dengan tata cara zakat, puasa dan hajinya.

Bila seandainya pun berbeda, mereka juga punya dalil sendiri, yang bisa saja benar. Tak mengklaim kebenaran milik pribadi, kebenaran datangnya dari allah SWT .

Dan yang mutlak benar hanya Allah SWT dan rosulnya, sedangkan kebenaran manusia itu relative adanya.

Abu Bakar Siddiq ketika dilantik menjadi khalifah berkata:  Aku telah diangkat oleh kalian menjadi pemimpin kalian, dan aku tak lebih baik dari kalian, maka bila aku benar ikutilah aku, dan bila aku salah luruskan aku.

Sebuah sikap yang mata bijaksana dari seorang pemimpin yang rendah hati, yang tak merasa paling benar sendiri, yang tak merasa hebat sendiri dan dengan rendah hati minta diluruskan bila melakukan kesalahan.

Bukan merasa diri paling hebat dan menyalahlan pihak lain yang tak sepaham dengannya, bahkan berani mengklaim diri paling benar penuh dengan emosional, menghantam pihak lain yang tak sependapat dengannya.

Islam adalah agama buat semua orang, buat semua golongan dan pada awalnya Islam tak bermazhab. Dan bilapun ada mazhab yang empat itu, bukan malah saling menyalahkan, tapi saling melengkapi dan saling mengisi penuh dengan simpati, toleransi dan empati.

Kalau sesama muslim saja saling bermusuhan, bagaimana dengan pihak lain akan menghormati ummat Islam?

Pantas saja Islam tak maju-maju, karena ummatnya sering kali berseteru.Islam disebarkan oleh nabi dengan kelembutan, bukan dengan kekerasan dan kebencian. Jikapun dapat dibenci dan dicaci maki, Nabi terus saja berdakwah dengan penuh kelembutan dan tidak dengan caci maki dan penghinaan, dan yang tidak mengikuti ajaran nabi, didoakan agar mendapat hidayah.

Nabi selalu optimis jika bukan sekarang, mungkin nanti di masa akan datang anak cucu mereka akan mengikuti ajaran Islam dan beriman kepada Beliau. Dan ternyata benar, ingat kisah penyebaran Islam di Thaif, Nabi bukan disambut tapi disambit dengan batu, namun Nabi bukan mengutuk mereka, tapi mendoakannya.

Nabi telah mencotohkan dalam penyebaran Islam dengan kasih sayang, bukan dengan kekerasan dan pedang terhunus, apa lagi dengan cara anarkis dan sebentar-sebentar merusak dan menghancurkan, wah ini jauh dari akhlak yang diajarkan Nabi.

Sesungguhnnya Islam adalah agama kasih sayang, agama yang penuh dengan kelembutan dan cara mengajaknyapun dengan lemah lembut, bukan dengan kekerasan. Dan bilapun ada yang iri, dengki maka dihadapi dengan tabah, sabar dan ikhlas.

Beliau kembalikan seluruh urusan kepadaNya, Sang Penguasa Alam Semesta, Penguasa langit dan bumi, Dialah Allah SWT.

Orang bijak pernah berkata: Bersabarlah terhadap kedengkian orang yang dengki Karena sesungguhnya kesabaranmu akan memadamkannya Api akan memakan dirinya sendiri Apabila tidak menemukan sesuatu yang dimakannya.

Itulah yang dikatakan orang bijak dan Bilau bersabda: Janganlah kalian saling mendengki, saling membenci, mancari cacat orang lain, dan janganlah membujuk rayu dengan tipuan. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara ( HR Bukhori dan Muslim).

Seorang pendengki dan pencaci maki apabila melihat anda, maka dia akan mendengki anda. Apabila anda tidak ada, maka dia akan menggunjingkan anda.

Kedengkian terkadang muncul dalam kritikan, dan membuka aib orang lain. Orang-orang yang dengki akan merasakan nikmat yang luar biasa dengan menyebarkan cacat dan membuka aib orang lain di tengah orang banyak dan tertawa dengan senangnya.

Seakan kebenaran adalah miliknya sendiri, orang lain salah semua. Seperti syurga dia yang punya, orang lain semua masuk neraka, karena tak sepaham dengannya. Sesama muslim dikafirkannya. Orang yang sama-sama mengucapkan syahadatpun disalahkannya, Orang belum sholat bukan diajaknya sholat tapi dihinakan, ya dia kabur! Semua orang salah, salah dan salah, semua orang Islam yang tak sejalan dengan pemikirannya disalahkan.

Padahal para imam Mazhab pun yang benar-benar ahli dalam bidang fiqih tak berani menyalahkan mazhab lainnya, mereka tetap rendah hati, baik imam Syafi'I, Imam Maliki, Imam Hanafi maupun imam Hambali.

Mereka para imam mazhab punya sifat rendah hati yang luar biasa, tak mengklaim mazhabnya paling benar sendiri, tak mengklaim hasil pemikirannya benar sendiri, bahkan mereka berkata: pendapatku benar, tapi bisa saja salah, dan pendapat mereka mungkin salah, tapi bisa juga benar karena memang kebenaran yang hakiki hanya milik Allah SWT, bukan milik manusia.

Penadapat manusia bisa benar, bisa juga salah , kebenaran manusia bersifat relative, tidak mutlak! Dan orang lain tidak bisa dihina dan dicaci maki karena pendapatnya berbeda dengan anda. Bagaimanapun sesama muslim bersaudara dan sebuah tuduhan yang keji, bila sesama muslim dikafirkan hanya karena berbeda pendapat, beda mazhab, beda pemikiran, beda aliran, kecuali aliran sesat, beda pemahaman dan lain sebagainya.

Lagipula bila sesama muslim masih hidup, tak boleh divonis dia akan masuk neraka, Mengapa? Karena Allah SWT yang membolak balik hati manusia, Allah yang mengetahui kesucian hati manusia, dan Allah pula yang memberikan hidayah pada seseorang dan kita tidak tahu akhir perjalan hidup orang lain. Bisa saja terjadi, dan ini banyak terjadi, orang yang tadinya penjahat, lalu bertobat dan ketika meninggal dalam keadaan khusnul khotimah. Bisa saja orang yang tadinya baik bisa menjadi penjahat, dan sebaliknya seorang yang tadi penjahat kemudian tobat lalu menjahit imannya yang koyak-koyak hingga utuh kembali. Dan bisa saja terjadi orang yang tadinya sholeh bisa salah, dan orangnya yang tadinya salah menjadi sholeh, lalu mati dalam keadaan khusnul khotimah, mati dalam keadaan baik.

KH Saifudin Amsir, Rs Suriah PBNU ketika ditanya tentang orang yang berdakwa melalui mimbar Jum'at mengatakan; Khutbah Jum'at bukan kendaraan untuk meluapkan emosi. Gunakan khutbah Jum'at sebagai sarana pendidikan Islam, perbanyak nasehat, menguatkan keimanan dan mengajak ketaqwaan. Jangan mengatakan yang tak pantas dalam khutbah Jum'at , seorang khotib tak boleh membawa urusan politiknya, kepentingan pribadinya dan kelompoknya di atas mimbar Jum'at. Kalau ada orang yang mudah menyalahkan kelompok lain di mimbar khutbah, dia telah gegabah membaca agama . Ini Bahaya! Bila khutbahnya berisi serangan pada mazhab lain, itu perilaku absurd, baik dari sisi syariat ataupun metode dakwah

Jadi mengajak orang kepada Islam lagi-lagi harus dengan kelembutan , kalimat disampaikan adalah ajakan, bukan ejekan, amanah bukan amarah, rendah hati bukan emosi, berbagi bukan mengusili, menyejukan bukan membuat hati pana s dan seterusnya. Itulah dakwah yang hakiki, dakwah yang membuat orang menjadi sejuk di dalam masjid, mushollah atau di dalam pengajian, sehingga ketika mereka pulang kerumah, mereka makin dekat kepada Allah SWT, bukan malah lari dari Allah, karena salah metode yang menyampaikan.

Islam adalah agama rakhmatan lil alamin, rakhmat bagi seluruh alam. Kalimat ini akan menjadi boomerang manakala cara mendakwahkannya penuh dengan amarah, caci maki, penuh hinaan pada pihak lain dan dengan punuh dengan kata-kata mengkafirkan pada sesama muslim yang tidak sepaham.

Bila cara ini terus berlanjut, pantas saja Islam tidak maju-maju, karena ummatnya tak mau bersatu dan membatu.




Oleh       : Syaripudin Zuhri
Sumber  : Era Muslim.Com

Read More »

Dakwah adalah Cinta

0 komentar

Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah.

Tentang umat yang kau cintai. Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. Tubuh yang luluh lantak diseret-seret.Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.

Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yg diturunkan Allah.

Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yang bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang.

Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik- cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik

Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.

Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan. Tidak Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih tragis. Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi akhirnya menjadi adaptasi.

Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada. Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. Hingga hasrat untuk mengeluh tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik.

Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. Tapi saking seringnya ditinggalkan , hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman..

Karena itu kamu tahu. Pejuang yang heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore. Yang takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar. Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar.

Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, ya Allah, berilah dia petunjuk sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang

Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta Mengajak kita untuk terus berlari Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.

Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.



(alm. Ust Rahmat Abdullah)

Read More »

Antara Ilmu dan Dakwah

0 komentar

Sungguh besar karunia Allah yang diberikan, dengan ayat kauniyah sebagai salah satu bukti untuk menjadikan manusia berpikir, beriman, dan berislam, serta berihsan terhadapNya

Ayat Kauniyah sebagai Penguat dan Pengantar akan Keimanan Allah dalam Al-Quran telah menjelaskan secara sempurna mengenai teori penciptaan alam semesta, kejadian penciptaan manusia, dan hal-hal lainnya yang menyangkut mengenai kebesaran Allah yang dituliskan dalam ayat-ayat di alam ini.

Ayat kauniyah merupakan sebuah sebutan bagi mereka yang sudah memahami makna akan kebesaran yang telah menjadi pelajaran bagi semua umat manusia.

Sejatinya, ayat kauniyah merupakan tanda kebesaran lain, yang tidak Allah tuliskan dalam ayat-ayat Al-Quran.

Sebagai insan yang Allah berikan kepemahaman dan kecerdasan, keimanan terhadap ayat-ayat kauniyah tentu saja harus terus terpatri dan menjadi gerbang cakrawala dalam memahami konsep kehidupan yang Allah berikan melalui berbagai peristiwa yang terjadi di alam ini.

Sebagai contoh misalnya, ketika terjadi peristiwa jatuhnya meteor yang terjadi di Rusia, selayaknya manusia yang telah memiliki kecerdasan, maka peristiwa ini seharusnya menjadi suatu kajian tersendiri dan pengembangan dalam dunia astronomi untuk membahasnya dari segi keilmuan dan kepastian yang sudah Allah berikan dalam Al-Quran.

Allah dalam Surat Ash-Shaffat ayat 6-10 menjelaskan"Sesungguhnya Aku telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang- bintang, dan telah memeliharanya (sebenar- benarnya) dari setiap syaitan yang sangat durhaka, syaitan syaitan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru. Untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal, Akan tetapi barangsiapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan); maka ia dikejar oleh suluh api yang terang."(QS. As-Shaffat: 6 -10).

Dalam surat tersebut telah dijelaskan secara terperinci bahwa meteor merupakan bagian dari benda langit yang Allah ciptakan selain matahari, bumi, bulan, dan planet-planet lainnya.

Ayat kauniyah memiliki sinkronisasi yang jelas dengan ayat-ayat Al-Quran (ayat kauliyah) yang sejatinya, adanya kesinambungan menjadikan ayat-ayat kauniyah sebagai penguat dan pengantar terhadap keimanan kepada Allah.

Berdakwah di Bidang Ilmu Dakwah tidak hanya terpusatkan bagi mereka para kalangan aktivis masjid ataupun aktivitas garis siyasi dalam Islam, namun dakwah juga menyangkut pada mereka para aktivis yang mengkaji mengenai ilmu tentang ayat-ayat kauniyah.

Bagi mereka yang bergerak dalam pemikiran ilmu pengetahuan, dakwah menjadi kewajiban tersendiri yang harus disebarluaskan untuk tujuan mulia yaitu menjadikan Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin.

Para peneliti dan ilmuwan ( scientist ) memiliki potensi besar dalam mengaitkan fenomena alam dalam keseharian di masyarakat dengan ayat-ayat kauliyah sehingga mampu memberikan pemahaman jelas bagi umat dan meyakinkan umat untuk tetap berpegang teguh terhadap ketentuan yang sudah menjadi garis yang Allah tentukan.

Misalnya saja mengenai peristiwa jatuhnya meteor yang terjadi di Rusia, para ilmuwan bisa memberikan penjelasan yang utuh dan menyeluruh menjelaskan mengenai fenomena ini.
Mengapa hal ini perlu dilakukan? Tentu saja, hal ini dilakukan demi mencegah adanya perspektif yang dapat mengarah pada takhayyul ataupun ramalan- ramalan yang bahkan menjadikan umat jauh dari keimanan kepada Allah

Hal utama dan jelas bagi mereka para aktivis dakwah dalam bidang ilmu adalah menjalankan fungsinya dalam upaya menjaga umat untuk tetap memahami bahwasanya segala fenomena yang terjadi di alam semesta dan fenomena alam di dunia memiliki suatu penjelasan alamiah dan nalar yang logis bahkan mampu menjadikannya sebagai penguat keimanan dan keislaman bagi Rabb mereka.

Selain itu, fungsi mereka para aktivis dakwah di bidang ilmu adalah memberikan pembenaran dan pelurusan terhadap umat, jika pada suatu saat fenomena alam yang terjadi dikaitkan dengan sifat-sifat yang akan menjerumuskan umat dalam kesyirikan.

Ilmu, dakwah, dan penjelasan problematika umat dalam bidang ilmu merupakan suatu tantangan tersendiri yang mampu menjadikan mereka yang berjuang di ranah ini memahami bahwa dakwah tidak hanya di masjid ataupun langgar-langgar. Namun, di ranah penelitian, penalaran ilmiah, bahkan di meja dan kursi laboratorium dakwah mampu dijalankan dan diikhtiarkan sebagai usaha dalam menjawab tantangan dan memberikan solusi bagi problematika umat saat ini.

Pembagian ranah dakwah tidak lagi harus menjadi masalah utama, namun kebersinambungan dan kesinergisan bagi mereka yang berdakwah haruslah menjadi penguat dalam barisan untuk menjadikan Islam sebagai agama yang Rahmatan Lil Alamin di Negeri Indonesia.





Oleh          : Abrory Agus Cahya Pramana
Sumber      : Dakwatuna.Com

Read More »

Meraih Kemuliaan dengan Dakwah

0 komentar

Siapa pun maklum, bahwa manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah para nabi dan rasul. Tidak ada manusia yang lebih mulia dari golongan mereka.

Kemuliaan nabi dan rasul tentu bukan dari sisi fisik ataupun aspek kemanusiaan lainnya. Sebab, secara fisik dan dilihat dari aspek kemanusiaannya, nabi dan rasul adalah manusia biasa sebagaimana umumnya manusia, termasuk Rasulullah Muhammad Saw sekalipun.

Lalu apa yang menyebabkan mereka mulia di sisi Allah? Tidak lain karena risalah yang mereka emban. Artinya, kemuliaan mereka terletak pada kedudukan mereka sebagai para pengemban risalah, atau para pengemban dakwah.

Allah SWT berfirman: Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka, Sesungguhnya kami tidak lain adalah manusia biasa seperti kalian. Akan tetapi, Allah telah memberikan karunia-Nya kepada siapa saja yang dikehendakinya di antara- hamba-hamba-Nya. (Qs. Ibrahim [14]: 11).

Menurut Ibn Katsir, kalimat, Akan tetapi, Allah telah memberikan karunia-Nya kepada siapa saja yang dikehendakinya di antara- hamba-hamba-Nya,? bermakna bahwa mereka diberi karunia berupa nubuwwah dan risalah yang mereka emban. (Ibn Katsir, Tafs�r Ibn Kats�r).

Pengertian yang sama terdapat pada ayat berikut: Katakanlah (Muhammad), ?Sesungguhnya aku adalah manusia bisa seperti kalian. (Hanya saja) aku telah diberi wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa.? (Qs. al-Kahfi [18]: 110).

Pujian Terhadap Para Pengemban Dakwah

Jika kemuliaan para nabi dan para rasul dicirikan oleh risalah yang diembannya, lalu bagaimana kedudukan umat mereka yang meneruskan aktivitas mereka yang mulia itu, yakni mengemban risalah (baca: dakwah) Allah SWT berfirman: Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru manusia menuju Allah (Qs. Fushshilat [41]: 33).

Menurut Imam al-Hasan, ayat di atas berlaku umum bagi siapa saja yang menyeru manusia ke jalan Allah (Al-Qurthubi, Tafs�r al-Qurthubi).
Mereka, menurut Imam Hasan al-Bashri, adalah kekasih Allah, wali Allah, dan pilihan Allah; mereka adalah penduduk bumi yang paling dicintai Allah karena dakwah yang diserukannya (Ibn Katsir, )
Karena itu, di sisi Allah, para pengemban dakwah adalah pewaris sejati para rasul dan para nabi Allah. Sebab, merekalah yang mewarisi risalah yang pernah diemban para nabi dan para rasul itu, sedangkan kita tahu, para nabi dan para rasul tidak meninggalkan apapun yang diwariskan bagi umat mereka, kecuali risalah yang mereka emban.

Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi itu tidak mewariskan dinar ataupun dirham. Mereka hanya mewariskan ilmu. Karena itu, siapa saja yang mengambilnya, maka sesungguhnya ia telah mengambil harta yang banyak. [HR. at-Tirmidzi, Ibn Majah, Ahmad, ad-Darimi].

Ulama dalam hadis di atas tentu saja mereka yang mengamalkan dan mendakwahkan ilmu mereka (al-?ulam�? al-?�mil�n). Sebab, jika mereka sekadar berilmu, tetapi tidak mengamalkan dan mendakwahkan ilmunya, kedudukan mereka justru hina di mata Allah, bahkan akan mendapatkan azab yang sangat keras. Rasulullah Saw bersabda: Manusia yang akan merasakan azab paling keras pada Hari Kiamat adalah ulama yang dengan ilmunya, Allah tidak memberinya manfaat. [HR. Ibn Majah].

Karena itulah, mengapa Rasulullah Saw juga bersabda: Sampaikanlah dariku walapun hanya satu ayat. [HR. at-Tirmidzi].

Di samping itu, banyak dorongan sekaligus pujian dari Allah dan Rasul-Nya yang ditujukan kepada para pengemban dakwah dan penyampai hidayah Allah.
Rasulullah Saw, misalnya, bersabda, sebagaimana dituturkan Abu Hurairah: Siapa saja yang menyeru manusia pada hidayah, maka ia mendapatkan pahala sebesar yang diperoleh oleh orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka. [HR. Muslim].

Sabda Rasul di atas sangat dipahami benar oleh para sahabat beliau. Karena itu, wajar jika mereka adalah orang-orang yang tidak pernah mengenal lelah dalam menyampaikan risalah Islam; meskipun mereka harus mengorbankan sebagian besar waktu, tenaga, pikiran, harta-benda, keluarga, bahkan nyawa sekalipun.

Mereka adalah orang-orang yang senantiasa menjadikan dakwah sebagai poros hidup mereka, bahkan yang menentukan hidup-mati mereka. Rasulullah Saw dan para sahabat adalah orang-orang yang menomorsatukan dakwah ketimbang urusan-urusan di luar dakwah yang bersifat duniawi. Mereka bukanlah tipikal orang-orang yang lebih banyak disibukkan waktunya untuk mencari dunia (kecuali sekadar memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya saja).

Mereka juga tidak menghabiskan sebagian besar waktunya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, meskipun mubah/halal. Jika tidak, mana mungkin mereka berhasil menyebarluaskan Islam di seluruh jazirah Arab dalam waktu yang sangat singkat? Ini seharusnya menjadi pelajaran bagi para pengemban dakwah saat ini, apalagi mereka yang mencita-citakan tegaknya kembali Khilafah Islam.

 Dalam hal ini, kita patut bertanya, mungkinkah umat ini mampu membangun kembali Khilafah Islam, sementara dakwah yang dilakukan para pengemban dakwah kepada mereka sangat minimal dan ala kadar-nya Mungkinkah umat terdorong untuk bersama-sama menegakkan kembali Khilafah Islam, sementara dorongan yang dilakukan para pengemban dakwah terhadap mereka sangat lemah Dakwah Islam Dan Amar Makruf Nahi Mungkar Allah SWT berfirman: Hendaklah ada di antara kalian sekelompok umat yang menyerukan kebaikan (Islam) dan melakukan amar makruf nahi mungkar. (Qs. Ali-Imran [3]: 104).

Amar makruf nahi mungkar adalah bagian dari dakwah Islam. Baik-buruknya masyarakat salah satunya bergantung pada dilaksanakan atau tidaknya amar makruf nahi mungkar.

Imam al-Ghazali pernah berkata, Sesungguhnya aktivitas amar makruf nahi mungkar adalah poros yang paling agung dalam agama. Karena aktivitas inilah Allah mengutus para nabi seluruhnya. Seandainya umat Islam mengkerdilkan amar makruf nahi mungkar, tidak mau memahami dan mengamalkannya, tentu akan berhenti nubuwwah ini; kesesatan akan tersebar luas, kebodohan akan menjadi hal yang lumrah, kerusakan akan merajalela, pelanggaran akan semakin meluas, negeri- negeri akan hancur, dan manusia akan binasa.? (Al-Ghazali, Ihy�? ?Ul�m ad-D�n, 2/306).

Celaan Dan Ancaman Bagi Orang Yang Meninggalkan Dakwah

Allah SWT berfirman: Mengapa orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan makanan yang haram? Sungguh, amat buruk apa yang telah mereka kerjakan. (Qs. al-M�idah [5]: 63).

Frasa labi?sya m� k�n� yashna?�n (Sungguh, amat buruk apa yang telah mereka kerjakan) jelas merupakan celaan dari Allah SWT dan peringatan kepada para ulama Yahudi dan Nasrani karena mereka tidak menegakkan dakwah dan amar makruf nahi mungkar. Berkenaan dengan ayat ini, Imam al-Qurtubi berkomentar dalam tafsirnya, Ayat ini menunjuk pada orang yang berdiam diri dan tidak mau mencegah kemungkaran, bahwa mereka pada dasarnya sama dengan orang yang berbuat kemungkaran itu sendiri.
(Al- Qurthubi, op.cit., 6/237).

Sementara itu di dalam as-Sunnah, Rasulullah Saw antara lain bersabda: Siapa saja di antara kalian yang melihat kemungkaran maka ubahlah kemungkaran itu dengan tangannya; jika tidak mampu, dengan lisannya; jika tidak mampu, dengan qalbunya. Yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman. [HR. Muslim].

Jarir bin Abdillah berkata: Aku membaiat Rasul Saw untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan memberi nasihat untuk setiap Muslim. [HR. Muslim].

Dalam hadis di atas sangat jelas bahwa nasihat yang merupakan bagian dari aktivitas dakwah Islam adalah di antara perkara yang dijadikan akad baiat. Baiat sendiri adalah akad perjanjian yang wajib dipenuhi dan haram untuk dilanggar. Allah SWT berfirman: Siapa saja yang melanggar janjinya niscaya akibatnya akan menimpa dirinya sendiri. (Qs. al-Fath [49]: 10).

Penting untuk disadari, bahwa seorang Muslim tidak selayaknya meninggalkan aktivitas amar makruf nahi mungkar karena rasa takut atas kehidupan dan rezekinya. Sebab, sesungguhnya ajal dan rezeki ada di tangan Allah; tidak seorang pun berkuasa atas keduanya. Rasul Saw bersabda: Tidak layak seseorang, ketika menyaksikan suatu tempat di dalamnya ada kebenaran, kecuali dia akan mengatakannya. Sesungguhnya sekali-kali hal itu tidak akan pernah memajukan ajalnya dan tidak akan pernah mencegah apa yang telah menjadi rezeki baginya. [HR. al-Baihaqi].

Berdiam Diri Terhadap Kemungkaran Adalah Tindak Kriminal Khalifah Umar bin Abdul Aziz r.a. menyatakan bahwa sesungguhnya berdiam diri (membisu) terhadap kemungkaran dan pelakunya adalah termasuk kemungkaran itu sendiri yang berhak mendapat sanksi di dunia. Sanksi di sini adalah taz�r yang diserahkan sepenuhnya kepada Imam/ Khalifah atau seorang q�dhi. Diriwayatkan, polisi Umar bin Abdul Aziz pernah datang pada sekelompok orang yang sedang meminum khamr, sementara di sana juga ada seorang Muslim yang duduk bersama mereka, tetapi dia tidak ikut-ikutan karena sedang berpuasa. Saat itu, polisi diperintahkan untuk mencambuk semua orang yang ada di sana. Namun, sang polisi bertanya, Wahai Amirul Mukminin, si fulan ini tidak ikut minum bersama mereka; dia sedang berpuasa. Umar bin Abdul Aziz tegas berkata, Hadirkan dia dan cambuklah! (Al- Qaradhawi, Al-Halal wa al-Har�m, hlm. 73).

Umar melakukan hal demikian karena beliau memandang sikap berdiam diri atas kemungkaran sebagai sebuah tindakan kriminal. Khatimah Sesungguhnya saat ini, banyak di antara mereka yang mengklaim sebagai pengemban dakwah, bahkan menjadi anggota jamaah dakwah, hanya memposisikan diri layaknya kaum Muslim kebanyakan; sebatas hanya sebagai pendengar semata. Mereka semata- mata rajin menghadiri halaqah, liq�, seminar, atau banyak membaca buletin dan nasyrah; tetapi tidak ada aktivitas dakwah yang dilakukan, kecuali sedikit sekali. Mereka merasa cukup dengan itu. Mereka sangat minimalis. Padahal mereka menyadari dengan baik sabda Rasul berikut: Allah itu Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik-baik saja. [HR. Muslim, at- Tirmidzi, dan Ahmad].

Sebagaimana Allah tidak menerima makanan jelek yang kita sedekahkan, Allah juga pasti tidak akan menerima amalan kita yang jelek yang kita berikan bagi Islam. Bukankah aktivitas dakwah yang minimalis adalah bagian dari sesuatu yang jelek Sebab, sesungguhnya Islam menghendaki dari diri kita pengorbanan waktu, tenaga, dan pikiran yang optimal serta harta yang banyak. Islam menghendaki segala sesuatunya yang terbaik dari diri kita.

Tidakkah kita melihat bagaimana Abu Bakar ash-Shiddiq yang menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah dan jalan dakwah Islam Ketika beliau melakukan itu, beliau ditanya Rasulullah Saw, ?Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu, wahai Abu Bakar Beliau hanya menjawab, Aku meninggalkan bagi mereka Allah dan Rasul-Nya. Demikianlah, sesungguhnya Islam menghendaki dari setiap Muslim waktunya, hartanya, tenaganya, semangatnya, rumahnya, mobilnya, bahkan hidupnya.

Sesungguhnya Islam menghendaki setiap Muslim menjual dirinya kepada Allah dan memberikan setiap hari sesuatu yang baru bagi Islam. Tidakkah kita melihat bagaimana kesungguhan Mus'ab bin Umair dalam berdakwah Mush'ab setiap hari dalam hidupnya senantiasa memberikan konstribusi baru bagi Islam di dalam dakwah dan jihad yang dilakukannya. Beliau adalah dai pertama dalam Islam di kota Madinah. Di tangannyalah sebagian besar penduduk Madinah berhasil diislamkan. Dia adalah peletak pertama fondasi Negara Islam Madinah. Dia adalah kontributor sesungguhnya bagi Islam dan jamaah kaum Muslim. Lalu bagaimana dengan kita? Sudah berapa puluh orang yang kita Islamkan? Sudah berapa ratus orang Islam yang berhasil kita ajak memasuki barisan dakwah Islam? Apakah kita telah berusaha keras untuk memahami Islam, mengamalkan, sekaligus mendakwahkannya? Berapa banyak harta yang kita infakkan setiap minggunya untuk kepentingan dakwah Islam? Berapa malam setiap minggunya kita memikirkan aktivitas demi kebangkitan Islam secara umum, atau kemajuan Islam di kota tempat tinggal kita? Berapa kali kita melakukan amar makruf nahi mungkar setiap harinya?

 Demikian seterusnya. Pertanyaan-pertanyaan itu penting kita tanyakan kepada diri kita untuk mengukur sejauh mana kita telah mengorbankan diri kita untuk Allah.

Lihatlah oleh kita seorang pekerja pabrik, seandainya dia tidak melakukan apapun dan tidak menghasilkan apapun; dia tidak bekerja selain mengisi daftar hadir pada pagi hari dan pulang di sore hari, kira-kira apa yang dihasilkan olehnya Demikian juga seseorang yang sekadar terdaftar sebagai anggota jamaah dakwah, sementara tidak ada atau sedikit yang dia lakukan untuk dakwah dan jamaahnya. Dia sekadar hadir di setiap halaqah dan tidak ada aktivitas lain yang dilakukannya selain halaqah; apa yang dihasilkan dari dirinya dan apa pula yang disumbangkannya bagi dakwah Islam? Renungkanlah!







Oleh : M. Arif Billah
[Majalah al-wa'ie, Edisi 49]

Read More »