• MUHASABAH

    Saat Status Berubah

  • KISAH ULAMA

    Shalahuddin: Pahlawan yang Dihormati Kawan dan Lawan

  • CINTA

    Aku Sebut Ini Cinta

  • HIKMAH

    Sayangi yang Ada di Bumi, Engkau Disayangi Penduduk Langit

  • KELUARGA MUSLIM

    Jalan Panjang Bernama Pernikahan

Tampilkan postingan dengan label Keluarga Muslim. Tampilkan semua postingan

Jalan Panjang Bernama Pernikahan

0 komentar
Islam telah menganjurkan kepada manusia untuk menikah, karena di dalamnya ada banyak hikmah. Pernikahan merupakan fitrah setiap manusia.

Manusia diciptakan Allah SWT sebagai makhluk yang berpasang-pasangan. Setiap jenis membutuhkan pasangannya. Seorang lelaki membutuhkan wanita, begitu pun sebaliknya, wanita membutuhkan lelaki. Ini adalah fitrah yang berikan kepada manusia.

Islam diturunkan Allah SWT untuk menata hubungan kedua insan agar menghasilkan sesuatu yang positif bagi umat manusia dan tidak membiarkannya berjalan semaunya sehingga menjadi penyebab bencana.

Dalam pandangan Islam, pernikahan adalah akad yang diberkahi. Di mana seorang lelaki menjadi halal bagi seorang wanita begitu pula sebaliknya. Mereka memulai perjalanan hidup berkeluarga yang panjang, dengan saling cinta, tolong menolong dan toleransi.

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya, ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS Ar Rum: 21).

Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah SWT ingin menggambarkan hubungan yang sah itu dengan suasana yang penuh menyejukkan, mesra, akrab, kepedulian yang tinggi, saling percaya, pengertian dan penuh kasih sayang.

Tujuan pernikahan adalah untuk mendapatkan ketenangan dalam hidup karena iklim dalam rumah tangga yang penuh dengan kasih sayang dan mesra. Namun, proses membina pernikahan yang sakinah, mawaddah dan warahmah serta bahagia sering tidak semulus yang dibayangkan oleh kebanyakan pasangan.

Dengan adanya pernikahan, hal itu menunjukkan sejauh mana pasangan mampu merundingkan berbagai hal dan seberapa terampil pasangan suami istri itu mampu menyelesaikan konflik. Pasangan suami istri akan menyadari bahwa hal-hal yang berjalan dengan baik pada tahap-tahap awal pernikahan mungkin tidak dapat berfungsi sebaik pada tahap-tahap berikutnya, yakni ketika pasangan suami istri menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan-keterampilan baru dalam hubungan berumah tangga.

Sepanjang perjalanan pernikahan, semua pasangan pasti akan menghadapi tekanan-tekanan baru. Tekanan-tekanan tersebut bisa berasal dari luar pernikahan, bisa juga dari dalam pernikahan itu sendiri, atau bahkan dari hal-hal yang sudah lama terpendam jauh di dalam diri masing-masing pasangan.

Pasangan suami istri harus dapat dan mampu menyesuaikan diri dengan pasangan, untuk hidup harmonis, menyeimbangkan tugas-tugas, karir yang sedang menanjak, membesarkan anak-anak dan memberikan dukungan satu sama lain adalah tugas yang sangat kompleks dilakukan pasangan suami istri.

Banyak pasangan suami istri yang terkejut, saat mereka mendapati bahwa konflik lama belum terselesaikan. Dia akan muncul dari orang tua, saudara kandung, atau di luar pasangan. Mereka akan muncul kepermukaan dalam hubungan pernikahan. Dan setiap konflik tersebut menunjukkan adanya tuntutan yang besar terhadap pasangan suami istri ketika mereka berusaha menghadapi berbagai persoalan, belajar memahami arti pengorbanan pada berbagai tingkatan yang baru dan bagaimana mempercayai orang yang dicintai.

Pernikahan tidak selalu menghasilkan banyak tuntutan bagi orang-orang yang menjalaninya. Orang-orang tua kita terdahulu tidak begitu peduli dengan hal-hal tersebut. Bagi mereka pada umumnya, pernikahan adalah bagian dari kelangsungan hidup. Suami mencari nafkah sedangkan istri merawat rumah dan anak-anak.

Namun, kini berumah tangga kehidupan semakin kompleks, dan tuntutan adanya keintiman dalam pernikahan generasi pendahulu, yaitu orang tua kita tidaklah sebesar tuntutan generasi sekarang. Dewasa ini, pasangan suami istri menginginkan jauh lebih banyak hal dari pernikahan.

Mulai dari kehidupan materialist, fisik yang indah, keilmuan, ras, sosial masyarakat. Harapan-harapan yang lebih tinggi itu, pasangan terkadang lupa pada tanggung jawab masing-masing, oleh karena itu pasangan suami istri sangat perlu mengetahui arti pernikahan.

Ya, karena pernikahan merupakan jalan yang aman bagi manusia untuk menyalurkan naluri seks. Pernikahan dapat memelihara dan menyelamatkan keturunan secara baik dan sah. Di samping itu, pernikahan pada dasarnya menjaga martabat wanita sesuai dengan kodratnya.

Pernikahan juga merupakan suatu ikatan yang kuat dengan perjanjian yang teguh yang ditetapkan di atas landasan niat untuk bergaul antara suami istri dengan abadi. Supaya dapat memetik buah kejiwaan yang telah digariskan oleh Allah dalam Al Quran yaitu ketenteraman, kecintaan dan kebahagiaan.

Wallahu a’lam.



Artikel RENUNGAN & DAKWAH ISLAM

Read More »

“Suamiku, Apa Yang Menutupi Hatimu ?”

0 komentar
tengkar suamiisteriPrangkkk….!! semua berhamburan, piring-piring dan gelas pecah berserakan.

Plakk…!! kembali tamparan mendarat dipipiku, aku hanya bisa meringis menahan sakit, pipiku lebam. Mungkin sudah tak bisa lagi dihitung dengan jari saking seringnya aku dapat hadiah tamparan dari suamiku jika dia sedang marah.

Dia tak peduli dengan sakit yang aku rasakan, dia tak pernah menghiraukan ngilunya sendiku setelah dia membanting tubuhku ke lantai, ceceran darah dipipiku dia anggap biasa saja.
Sifatnya itu tak pernah ku temui sewaktu kami masih berpacaran dahulu.Sungguh berbeda.

Kemarahannnya sungguh tak beralasan, hanya karena rasa cemburu yang membakar hatinya.
Sifat cemburunya tak dapat lagi diterima akal sehat. Jika aku pergi kewarung untuk sekedar membeli keperluan dapur, dia akan menghujaniku dengan berbagai pertanyaan, “ Habis dari mana, tadi bertemu dengan siapa saja, kamu bicara dengan siapa saja, laki-laki mana saja yang ajak kamu ngobrol, kamu berbicara tentang apa saja..? dan banyak lagi.

Ya Allah…… aku sungguh tak tahan dengan keadaan ini. aku sungguh lelah…, aku merasa tepasung dalam istanaku sendiri…..

Jika dia berangkat kerja, aku selalu dikurung di rumah, jendela dan pintu selalu di tutup, aku sama sekali tidak diizinkan bergaul dengan lingkunganku. Terkadang aku malu dengan tetangga.
Hampir setiap hari kami bertengkar walau itu hanya masalah sepele. Dia selalu mengutamakan egonya.

Apalagi jika sa’at di panggil aku agak telat merespon, dia langsung marah.
Yang makin membuat hatiku sakit….tatkala malam tiba, dia seperti menganggap tak pernah terjadi apapun pada kami disiang hari, meski dia masih bisa melihat bekas tamparan tangan kekar nya dipipiku, dia dengan leluasanya menikmati “ sajian malam” nya tanpa rasa bersalah ataupun mengluarkan sebait kata ma’af karena telah menyakitiku. Terkadang aku bertanya dalam hati “ sebenarnya hati suamiku terbuat dari apa..”? Astaghfirulllah!..

Pernah suatu hari Ikhsan anak kami melihat pertengkaran kami. Dia sangat ketakutan tatkala suamiku memukul serta membanting tubuhku kelantai hingga pelipisku berdarah yang menyebabkan pendengaranku agak sedikit terganggu.

Anakku gemetar dan ketakutan hingga dia pipis dicelananya, anakku yang semula periang berubah menjadi pendiam, dia selalu ketakutan jika ada orang asing yang menyapanya, dia sangat susah didekati, dia tak mau lagi datang kesekolah. Dia selalu menangis jika disuruh kesekolah, hingga akhirnya aku terpaksa menitipkan dia untuk sementara di rumah orang tuaku, agar mentalnya kembali stabil. Dia mengalami depresi berat. Aku kasihan jika dia terus-menerus menyaksikan kami bertengkar..

Aku berusaha sekuat tenagaku mempertahankan pernikahanku, walau sejujurnya aku sudah tidak kuat diperlakukan seperti itu oleh suamiku. Dalam hati aku masih sangat menyayangi suamiku meski sikapnya seperti itu.

Aku sangat sedih dengan sikap suamiku..Bukankah seorang suami harus memperlakukan istrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang…. ? Jikalaupun si istri melakukan kesalahan apa mesti di tegur dengan tamparan dan pukulan…?

Sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ

“Sesungguhnya Allah Mahalembut, menyukai orang yang lembut. Dan sesungguhnya Allah memberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikannya kepada sikap kasar.” (HR. Muslim)

Aku teringat lirik lagu yang pernah aku putar sewaktu aku belum menikah dulu.

“Ia ibarat kaca yang berdebu jangan terlalu keras membersihkannya Nanti ia mudah retak dan pecah…
Ia ibarat kaca yang berdebu jangan terlalu lembut membersihkannya… Nanti ia mudah keruh dan ternoda…
Ia bagai permata keindahan… Sentuhlah hatinya dengan kelembutan
ia sehalus sutera di awan… jagalah hatinya dengan kesabaran…
Lemah lembutlah kepadanya namun jangan terlalau .. Tegurlah bila ia bersalah namun jangan lukai hatinya. “


Wanita diciptakan dari tulang rusuk laki-laki yang bengkok, ketika dibiarkan dia akan makin bengkok namun ketika ditarik dengan keras dia akan patah.

RASULULLAH Shalallahu ‘Alaihi Wasallam adalah sosok pria yang ketika beliau dengan kesabaranya menghadapi banyak sikap dari para istri beliau. Beliau adalah seorang suami yang rela berdiri berjam-jam untuk menjadi sandaran istrinya (‘Aisyah) ketika ia ingin melihat suatu pertunjukan olah raga pedang para sahabat. Padahal waktu itu usia beliau sudah masuk usia senja.
Beliau juga tidak serta merta memarahi istrinya (‘Aisyah) ketika ia salah memasukkan sesuatu kedalam minuman Rasulullah , yang seharusnya ia masukkan gula namun garam yang tercampur didalamnya. Namun dengan bijaknya beliau tersenyum dan berkata wahai Istriku minuman yang kau buat sangatlah nikmat, Aisyah pun menjawab benarkah Ya…Rasulullah?” Kemudian Aisyah mencicipi minuman tersebut dan….Wajahnya memerah karena sangat malu juga khawatir kalau kalau Rasulullah marah.

Namun Rasulullah sudah dapat membaca kekhawatiran tersebut dan tersenyum pada istrinya dengan penuh sayang.

Firman Allah Ta‘ala, “Dan bergaullah dengan mereka dengan cara yang baik.” (An-Nisa’: 19).

Setiap sujud malamku.. aku selalu ber do’a agar Allah melunakkan hatimu suamiku. Aku hanya bisa memohon kepada yang Maha membolak balikkan hati manusia agar engkau berubah , Aku tak ingin pernikahan ini hancur…, bagaimanapun aku sangat mencintaimu karena Allah, karena aku yakin Allah Maha Pemurah. 

Sehingga kuat keyakinanku bahwa kita akan memetik buah yang indah dan manis pada akhirnya ,
Kembalillah ke jalan Allah suamiku, simpan tangan dan kekuatanmu untuk menegakkan kalimat Allah, bukan untuk meremukkan tulang rusukmu sendiri. Simpan amarahmu untuk musuh – musuh Allah yang kita wajib bersikap keras terhadapnya, bukan kepadaku yang selalu mendampingimu. Kami merindukan imam yang tegas dalam hal yang Allah mengharuskan kita tegas terhadapnya dan lemah lembut terhadap keluarga dan sesame muslim .

Buat suamiku… semoga kau membaca note’sku ini..


Cece (indah_putri85@yahoo.co.id )
Artikel Era Muslim.com

Read More »

Menikah, Mimpi Indah Sampai ke Langit

0 komentar

Ilustrasi (inet)
Akhirnya aku menikah. Bahagia sekali dalam proses ijab kabul berjalan dengan lancar. Keluarga besarku hadir, tetangga dan teman-teman dekatku ikut memberikan doa restunya. 

Namun aku tak mengenal siapakah lelaki ini yang lancar sekali dalam ijab kabul. Dia, tak jelas wajahnya, yang menjadi suamiku setelah prosesi ijab kabul ini. Siapa dia? 

Aku tak tau namanya, tak terlihat wajahnya, aku hanya bisa melihat dari belakang saja, kami tak disandingkan dalam prosesi ini. 

Aku duduk bersama Ibuku di belakang lelaki ini. Siapakah dia? 

Mungkinkah ini nyata. Semoga benar. Tapi, siapakah dia?

Aku terbangun dari tidur dan mimpi itu, suara adzan Subuh dari mushola terdekatlah yang membangunkanku dalam tidur lelap tadi malam. Itu hanya mimpi saja. Aku bingung dan bertanya siapakah lelaki itu. Selesai Subuh, kubuka HP. Ada SMS yang tiba tadi malam, baru kubaca, dari tim redaksi tempatku bekerja, SMS dari Mbak Lestari dalam bahasa santun yang aku kenali sekali.

“Dewi, cepat  mana tulisanmu, deadline nih,” aku tak ingat lagi deadline yang mana. Sesuai permintaan Mbak Lestari, kubuka-buka buku kecil batikku. Hmm… ini berat sekali, aku sudah hubungi Ustadz Abdullah Zakaria untuk secara rutin mengirim kolom Hikmah pada majalah kami, rupanya pekan ini beliau belum mengirim tulisannya.  Aku bingung di pagi hari selesai Subuh ini, dibuat sibuk dengan kejadian tersebut. Kutelpon Ustadz Abdullah tak diangkat. Ini bukan waktunya pas untuk menelpon. Mungkin beliau masih beraktivitas di masjid mengisi kuliah Subuh.

Aku SMS saja beliau, pikirku. “Ustad Abdullah, mohon tulisan kolom Hikmahnya di kirim via email seperti biasa, jika tidak bisa mohon kontak saya. Terimakasih. Dewi.”
Ahh pagi ini begitu dikejar banyak deadline, membeli tiket pesawat karena Ibu mau pergi ke Medan menjenguk kakaknya yang sedang sakit, mengerjakan tiga makalah tugas kuliah S2-ku, novelku yang ketiga dengan tema religi yang sudah ditunggu penerbit bulan ini harus sudah terkirim, ohhh… kepala ini terasa mau pecah! Aku harus tarik nafas, aku harus tenangkan diri dahulu. Jalan kaki di Subuh hari pas tuk menenangkan ketegangan. Sehabis itu pastilah kumemulai tilawah Al-Quran satu juz.

Aku keluar dari komplek kos-kosanku, menikmati sesegar udara, angin terhembus menyentuh kulit dan rambutku. Angin sepoi ini menerbangkan beberapa helai rambut panjangku. Sudah saatnya jilbab kukenakan di masa muda, masa sekarang. Aku ingin sekali. Aku ingin. Panggilan hati sudah sangat terasa. Kebenaran itu pasti. Hati kecilku selalu iri melihat wajah wanita muslimah menggunakan jilbab dengan rapinya.

Klakson motor mengganggu ketenanganku. Suara itu dari belakang, ahh.. Rohmat teman baruku ini selalu saja begitu. Mentang-mentang motor baru dan seragam pegawai pabrik botol saos itu selalu ia kenakan. “Dew, kemana, olahraga dengan sandal jepit, jika tak serius duduk saja di teras sana… hehehe…” guyonan Rohmat seperti bisa itu sudah kuhapal sekali. “Saya pergi dulu yaa Dew, assalamualaikum,” Rohmat pergi dan sampai hilang dari penglihatan.

Yang satu ini aneh, selalu begitu. Dia hanya say hello. Sudah lama sekali kami tak ngobrol panjang lebar kesana kemari. Ah, biarkan Rohmat pergi, iklan berjalan. Ingat kejadian tadi barulah aku bisa tertawa lepas. Sandal jepit.

Sudah jauh aku melangkah pagi ini di komplek perumahan Intan, sejauh ini aku baru menemukan suara kicauan burung. Burung dalam sangkar itu bisa menunjukan dirinya dengan suara-suara merdu. Hmm, apakah para burung bisa bicara? Kira-kira mereka akan bicara tentang apa? Bebas lepas merdeka di hutan lindung aman dari polusi, serta dari gangguan tangan manusia.

Aku terus berjalan sehat. Aku harus menikmati hari-hari yang terus berganti ini. Hargailah nikmat sehat dengan berjalan kaki. Cukup dengan waktu 30 menit saja, semoga bisa.

“Baik ustad, kami tunggu emailnya sampai sore, malam akan kami edit dan naik cetak majalahnya,” jawaban SMS-ku pada Ustad Abdulah. Aku maklumi kesibukan beliau. Semoga sore hari bisa ada kabar baik.

Tiga makalah kuselesaikan perlahan-lahan, tiket pesawat sudah kupesan via rekan kantor yang biasa urus tiket pesawat.

“Dew, sudah pukul 13.00 nih, jangan lupa dikirim,” ahh Mbak Lestari ini, “Belom Mbak, sore hari Ustad Abdulah baru bisa kirim, nanti aku kabari lagi. Beres lah. Okee?” balasku di SMS.

Ringtone HP berbunyi… “Dewi, bagaimana tiket Ibu sudah kamu pesan? Bibimu sudah dipindahkan ke kamar khusus di Rumah Sakit Islam, Ibu harus pasti berangkat besok.”
“Oke bu, tiket satu jam lagi, Deni temanku akan mengantar tiketnya ke rumah,” balasku.
“Dew, mana powerpoint-nya? 

Lusa kamu harus sudah siap mengisi materi seminar menulis fiksi di komunitas baca Indonesia. Panitia menanyakannya malah ke aku. Kamu langsung kirim ke Riza ya. Dia seksi acaranya. Ditunggu cepat jangan pake lama,” kata-kata di SMS. Wow ampun dah makin banyak yang harus kukerjakan.

Ditambah lagi SMS dari pak Budiman, “Dewi, kerangka pidato Direktur Utama sudah dibuatkan dalam menyambut hari Pers Nasional, akan dimuat di halaman khusus majalah kita,”  bebanku nambah lagi.

Piring kotor masih numpuk di belakang, pakaian numpuk belum disetrika… makin numpuk nih! Malang hidup sebagai anak kost. Sampai kapan ini bisa berhenti, aku letih merintih sampai tertatih. Aku letih dengan banyak rutinitas deadline, aku mau lepas saja. Merdeka saja! Aahhh geram sekali!

Kulihat HP ada SMS, kubaca, “Maaf Mbak Dewi, saya tidak bisa mengirim tulisan tuk pekan ini, karena belum rampung, pada saat yang bersamaan saya harus segera ke Ponorogo, guru saya sedang sakit. Maaf ya mbak. Terima kasih,” SMS Ustad Abdullah.

Di saat yang sama ada SMS dari Rohmat, “Dewi, saya sudah kirim tulisan ke emailmu. Saya sudah sepekan ini membuat tulisan dengan tema Persatuan Umat Islam, sebenarnya saya masih belajar. Mohon masukannya ya!”

Dilihat dari gaya tutur bahasa tulisan Rohmat bisa sangat pas dimasukan dalam kolom Hikmah. Tak disangka pegawai pabrik saos ini, punya kelebihan. Kubalas SMS-nya, “Oke bagus tulisannya, aku masukan ke majalahku ya, klo sudah terbit kuberikan majalahnya padamu. Tolong kirim CV-mu ke aku.”

Maa syaa Allah, CV-nya membuatku kagum. Rohmat semuda itu sudah menjadi ketua DKM Masjid Hidayah. Dia ustadz pula, sering mengisi majelis taklim Ibu-Ibu, juga  sering ikut seminar kepenulisan. Beberapa pernah menulis untuk media koran lokal. Akan kujuluki dia Ustadz Rohmat Maulana di kolom hikmah. Bagus sekali ada variasi nama penulis kolom ini.

Kenapa hatiku deg-degan ya membaca CV Rohmat ini? Dari wajah dia tak jelek-jelek amat tapi dia terlihat shalih sekali. Inginnya… ohh… sudah hampir berumurkah aku, ingin sekali sudah memiliki imam dalam hidupku yang selalu sendiri ini. Memiliki imam di tahun 2014 ini.


Ibu kosku memberikan bungkusan kiriman, tampaknya kiriman dari Rohmat. Kubuka bungkusan dengan perlahan, ada dua buah jilbab putih, satu surat yang siap kubaca. Isinya kurang lebih ucapan terima kasih tulisannya sudah dimuat di majalah tersebut dan mendapatkan honor pula. 

Kado ini hanya ucapan terimakasih dan dia meminta agar saya menggunakan Jilbab yang rapi. Dan bertanya apakah saya sudah memiliki calon suami.

Hatiku bergetar dibuatnya. Tak disangka ada lelaki yang bertanya seperti ini, pertanyaan serius. Di awal tahun 2014 ini, wow! Hatiku melayang tak menentu. Ada secercah harapan dalam tulisan surat ini. Apakah dia ya Rabb, imamku di masa nanti? 

Selama penantiaan yang lama ini, umurku hampir mendekati 30 tahun. Sudah sewajarnya di umurku ini aku telah menikah dan memiliki anak seperti teman-temanku. Apakah ini jawaban dari Allah SWT atas doa-doaku dalam shalat malamku dan shalat hajat dalam hari-hariku, atau doa dari orangtuaku.

Dua jilbab putih ini, hmm… aku tak bisa membayangkanya jika terpakai, kucoba di cermin, rasanya diriku tampak cantik tampak nyaman hati ini. Rasanya sudah waktunya aku menggunakan jilbab ini, memang sudah waktunya. Tak bisa ditunda-tunda. Sudah banyak artikel Islam dan kolom hikmah yang aku baca sebelum diterbitkan di majalah. Aku editor dalam tim redaksi. Aku yakin ini pertanda jilbab sudah harus kukenakan, karena ini hukumnya wajib bagi muslimah.

Nada musik klasik ringtone-ku berbunyi. Ustadz Rohmat menelponku bertanya apakah kiriman itu sudah tiba dan dibuka. Ustadz Rohmat meminta aku jika berkenan mengenakan jilbab yang rapi dan datang ke rumah Ustadzah Herlina esok lusa.  Aku jawab insya Allah.

Pagi ini rasanya lain. Kukenakan jilbab putih dan pakaian bernada coklat muda. Kusiapkan diri datang ke rumah Ustadzah Herlina. Rasa penasaran itu makin tak menentu. Jantungku mulai berdegup-degup kencang. Semoga tak grogi, semoga saja, aku terus berdoa. Apakah ini proses ta’aruf itu? Dalam benakku aku terus bertanya-tanya. Apakah Ustad Rohmat mau ta’aruf denganku lalu melamarku? Ahhh… apakah sejauh itu apakah seserius itu?

Ustad Rohmat, Ustadzah Herlina serta suaminya dan aku dengan rasa gugup ini sudah berada di ruang tamu. Tersaji teh madu hangat dan cemilan kue-kue kering. Aku masih gugup. Mereka bertiga sesekali melihatku sepertinya mereka takjub atas perubahanku terkait pakaian yang kugunakan. Ustadzah Herlina memulai pembicaraan dalam keheningan ruangan itu.

“Saya ucapkan terimakasih Dewi sudah bisa datang dalam undangan ini. Subhanallah ya dengan Dewi gunakan jilbab jadi terlihat lebih anggun, lebih bersinar wajahnya,” aku tersipu-sipu atas pujian itu.

“Langsung saja ke intinya ya. Ustadz Rohmat ini dua minggu lagi akan menikah dengan Mbak Tias, mungkin Ustadz Rohmat hari ini akan memberikan undangan pernikahannya ke kamu, hadir yaa!“

Mendengar kabar itu, rasanya badan ini lemas. Harapanku mulai hancur lebur berkeping-keping jadi debu. Seperti jatuh dari ketinggian gedung berlantai 30, remuk. Ini salahku, mengapa kubiarkan perasaan dan harapan-harapan berhembus dalam pikiranku. Ahh.. belum rejeki menikah di tahun ini. 

Harapan tinggal harapan… kuterima surat undangan itu. Tanganku tak kuat menerimanya. Senyumku kupaksa keluar kuterima dengan berat hati. Hatiku terus bicara, begitu senangnya Tias mendapatkan suami seperti Ustad Rohmat. Beruntung sekali dia.

Mataku terus tak percaya melihat undangan pernikahan putih ini. Aku tak percaya. Lalu hadiah jilbab itu untuk apa? Apa pesan yang akan disampaikan Ustad Rohmat? Hanya inikah, hurat undangan pernikahanya? Pertanyaan berkelebat dalam benakku.

“Dew, ada hal yang penting juga yang akan disampaikan Ustadz Rohmat ke kamu selain berita undangan pernikahannya. Silahkan Ustadz disampaikan, semoga sukses rencana baik ustadz,”  Ustadzah Herlina memecah keheningan lagi.

“Begini Dewi, terima kasih kamu sudah menyediakan waktu untuk datang ke sini. Saya dapat amanah dari Ibu saya untuk mencari wanita solehah yang baik sejak dua bulan yang lalu, tapi saya belum menemukannya, namun saya melihat dan bertanya pada Ustadzah Herlina, berdiskusi tentang kamu, apakah bisa dijadikan calon Istri.”
“Calon Istri? “ aku memotong.

Kenapa aku, kenapa calon istri, apakah aku solehah, untuk siapa calon istri yang dimaksud? Benakku banyak bertanya.

“Ya calon istri buat adikku, Andriansyah, dua bulan lagi dia selesaikan kuliah S2-nya di Universitas Islam Internasional Islamabad, Pakistan. Bidang sejarah. Dia juga pandai dalam menulis, banyak tulisan artikelnya sudah terpublikasi. 

Ibuku meminta dia agar segera menikah juga di tahun ini dengan orang Indonesia. Ibu mengkuatirkan jangan sampai dia suka dengan muslimah Timur Tengah. Ibuku nekat banget dengan ilmu ‘pokoke’ si Andriansyah harus menikah dengan orang Indonesia. 

Syukur-syukur dapat orang Jawa. Semoga kamu bersedia untuk kami jodohkan dengan adikku ini. Ini foto dan CV-nya. Bisa kamu pelajari dan istikharah, dan tambahan info dia juga seorang ustadz muda sering diminta untuk ceramah, karena memiliki latarbelakang pesantren di Gontor Jawa Timur.”

“Dew, ini bukan paksaan lho, kita cuma berusaha saja, siapa tau kalian berjodoh. Namanya juga ikhtiar ya,“ Ustadzah Herlina senyum-senyum menggodaku.

Tanpa diduga, aku akhirnya menikah dengan Andriansyah. Inilah jodoh. Inilah takdir. Datangnya tak terduga, tak terkira. Alhamdulillah shalat malamku terus kujalani dan shalat hajatku serta shalat sunah-sunah tetap kujalani.

Aku selalu kubersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmatnya. Suamiku orang yang shalih, perhatian sekali, baik sekali, dia membimbingku, hobi kami sama di bidang tulis menulis dan mengajar di seminar-seminar. Kami bersatu padu dalam mimpi-mimpi kami, dalam jalan dakwah. Ini barulah mimpi, yang kunamakan mimpi indah sampai ke langit.




Oleh     : Azis Malik MAdv.




Read More »

Dialah Anakku Apa Adanya l

0 komentar
  • l
Ilustrasi. (islamicstyle.al-habib.info / nurelyana)
Namanya Muhammad Fatih Assyamil, sudah 3 tahun 3 bulan terlahir di muka bumi. Saat pertama lahir, anakku memiliki hal yang unik dari kelopak kepala bagian bawah lembek sekali sampai-sampai kami pun khawatir terjadi sesuatu dengannya. Dan alhamdulillah dia sehat sampai sekarang.


Saat usia sekarang, anakku sering ngompol padahal sebelum tidur pasti pipis dulu ke kamar mandi, walau kata teman-temanku sedikit mencibir ”hahhh…masa sudah sebesar itu masih ngompol”, aku biarkan saja cibiran itu dan aku langsung searching di mbah Google dan alhamdulillah gak ada masalah dengan usianya yang masih mengompol. 

Dan alhamdulillah hari ini 03 februari 2014 dia memberikan kejutan di pagi hari dengan tidak mengompol.

Saat sekolah di PAUD anakku termasuk anak yang sulit sekali dilepas dari ummi dan abinya jika diantar ke sekolah, selalu nempel kaya perangko bahkan sampai nangis ketika ditinggal. Bu guru yang baik hatipun langsung mengajaknya dengan banyak rayuan, dan alhamdulillah berjalannya waktu pelajaran dia langsung bisa beradaptasi.

Saat berteman dengan seusianya dia berusaha menjadi yang terbaik, menjaga barangnya, bahkan dia cenderung aktif sekali untuk bermain, lari sana-lari sini seakan batrenya full tak habis-habis. Keceriaannya saat bermain akan dia tunjukkan jika suasananya menyenangkan.

Saat bersama ummi dan abi, dia pintar sekali meniru perilaku orang tuanya. Senang bermain, membaca buku, berlari-lari bahkan dia sibuk mencari perhatian dari orang tuanya. Penuh kasih dan sayang, berpelukan saat berjumpa dengan ummi dan abi, mengucapkan salam ketika masuk ke rumah, meminta maaf jika salah, membaca doa ketika melakukan aktivitasnya, meminta izin jika ingin sesuatu, menangis jika tidak dituruti, ngambek jika sudah kesal, merayu jika dimarahi, mencium ketika ia gemes dengan ummi dan abi, sayang dengan saudaranya.

Dialah anakku dengan banyak kekurangan dan kelebihan yang ada, walau ada fase balita yang terlewati, walah ada cibiran tentang anakku, walau kemampuannya berbeda dengan yang lainnya. Ternyata dia lah guru untuk kami, guru mengajarkan kesabaran, guru mengajarkan keikhlasan, guru yang mengajarkan disiplin, dan guru yang harus optimal dengan sisa waktu yang minimal.

Bunda, bagaimanapun kondisi anak kita tetaplah kita mendukungnya, tetaplah kita mengasihinya dan menyayanginya. Jangan dimarahi ketika anak melakukan kesalahan yang sebetulnya dia belum tau mana yang benar dan salah, jadi arahkan untuk anak tidak mengulangi kesalahannya. Karena anak adalah titipan Allah untuk kita dan doa anak yang shalih akan membantu kita di akhirat kelak.

Salam sayang dari ummi untuk anakku tercinta yang memiliki kekurangan dalam hal bicara belum jelas, ummi yakin seiring berjalannya waktu kamu akan bisa berbicara dengan jelas. Doa ummi dan abi agar dirimu menjadi seorang pemimpin yang adil dan bijaksana. Aamiin

Ummi yang mencintaimu apa adanya – Siti Masripah.




Oleh         : Desitie
Sumber      : Dakwatuna.com


Read More »

Dialog Sepasang Al-Banna

0 komentar
Di penghujung sore Jumat sepasang suami istri menghabiskan waktu bercengkerama di depan beranda rumah ditemani buah cinta semata wayang mereka. 

Pemandangan yang sejuk melihat keluarga Surga itu. Tiba tiba sang istri melontarkan pernyataan yang membuat canda tawa mereka terhenti.

“Abi, Ummi sedang jatuh cinta… sangaaaat…” jelas Ummi.
Sang suami memandang manja ke istrinya dan tersenyum simpul.

“Tapi bukan dengan abi…” tiba-tiba rekahan senyum itu memudar mendengar pernyataan lanjut istrinya. Kaget. Tapi tetap berusaha untuk tenang bertanya dengan ekspresi datar.

“Memangnya dengan siapa Ummi jatuh cinta?”
“Abi maafkan ummi ya. Ummi begitu mencintai-Nya dengan sangat.

Cinta itu telah menyita perhatian, hati, dan pikiran Ummi sepenuhnya. Dan jujur ketika ummi memutuskan menikah dengan Abi satu tahun silam, sebenarnya hanya karena Dia. Ummi mencintai-Nya melebihi cinta ummi ke Abi dan buah hati kita, bahkan dengan apapun. Pernikahan kita Ummi jadikan tempat pembuktian kalau ummi benar-benar mencintai-Nya. Dan syukran ya, Abi telah membantu Ummi.

Semoga ini benar adanya. Semoga Dia nerima cinta Ummi. Ummi harap begitu juga dengan Abi. Silahkan Abi jadikan “alat perantara” untuk membuktikan cinta Abi pada-Nya. Sehingga apa yang kita lakoni sampai batas waktu ini semata karena cinta pada yang sama-sama kita cintai.”

Suasana sejuk dan haru serta merta menyelubungi hati sang suami. “Semoga kau menjadi penghulu bidadari Surga, sayang. Sungguh aku takut posisiku tergantikan di Surga nanti. Tapi kuberharap ruh-ruh pencinta-Nya akan kembali disatukan di jannah-Nya. Yuk kita desain bahtera ini sebagai tempat pembuktian cinta kita yang sebenarnya.”

Senyum bidadari sang istri merekah mendengar restu dan ridha suaminya.



Oleh        : Fha Zahid
Sumber    : Dakwatuna

Read More »

Gaji Istri Lebih Besar, Bagaimana Sikap Suami

0 komentar
Jika dilihat, sekarang ini sudah semakin banyak seorang istri yang menjadi pencari nafkah utama dalam keluarga.
 
Walaupun mereka yang menikah dengan kondisi tersebut, pernikahannya tetap berjalan baik-baik saja dan tidak ada hambatan dalam rumah tangganya alias sukses merengkuh sakinah, mawaddah, dan warahmah (SAMARA).
 
Namun, disatu sisi, tidak sedikit para suami yang merasa khawatir jika istrinya berpenghasilan melebihi dirinya atau lebih tinggi. Para suami takut kondisi itu membahayakan pernikahan yang mereka jalani. 

Apakah benar demikian?
 
Sebagai contoh, Budi dan Ismi, bukan nama sebenarnya, tinggal di Bekasi. Mereka adalah salah satu pasangan yang menjalani pernikahan dengan beda penghasilan tersebut.
 
Saat Budi, sang suami, terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dari pekerjaannya dengan jabatan sebagai Manajer di sebuah perusahaan tekstil ternama, ia pun harus mencari pekerjaan lain.
 
Beberapa bulan kemudian, Budi pun mendapatkan pekerjaan. Namun, pekerjaan barunya kini ternyata gaji yang ia terima lebih kecil dari sang istri, Ismi yang bekerja sebagai kepala HRD sebuah perusahaan swasta ternama di Jakarta.
 
Kini, setelah menjadi orang yang penghasilannya lebih tinggi dari sang suami, Ismi merasa lebih percaya diri dari sebelumnya. Ismi jadi tidak bergantung lagi secara finansial pada suami, Budi.

Namun terkadang, Ismi suka berfikir tentang pekerjaan dan mengurus rumah tangga. Jika memang ia boleh memilih, maka Ismi, ibu dua anak itu lebih suka menjadi mengurus rumah tangga (IRT) atau bekerja part time saja.
 
Dengan demikian Ismi jadi bisa lebih banyak menghabiskan waktu dengan kedua putra putrinya. Ismi, meski berpenghasiilan lebih besar dari suaminya, namun ia harus tetap berjuang untuk menyeimbangkan tugasnya sebagai orangtua sekaligus dengan pekerjaannya.
 
Fakta berbicara, bahwa para istri akan merasa kehidupan pernikahannya berkualitas saat sang suami lah yang menjadi pencari nafkah utama bukan dirinya. Para istri akan merasakan ketidakpuasaan saat dia kurang memiliki waktu untuk anak-anaknya.

Kebanyakan pasangan, masih banyak memberikan istri tanggungjawab yang lebih, dalam keluarga. Mulai dari mengurus rumah tangga dan anak, ditambah urusan di luar rumahnya. Jadi sulit untuk wanita bekerja menyeimbangkan hidup mereka sebagai seorang ibu.

Selain masalah di atas, hal lainnya yang juga kerap membuat sang istri yang berpenghasilan lebih besar dari suami bertengkar adalah, berusaha menerima kenyataan. Mereka harus berusaha melawan kenyataan jika kini sang wanitalah yang berpendapatan lebih.

Terkadang, kedua belah pihak, yaitu suami dan istri belum bisa menerima kenyataan itu. Baik si suami maupun istri merasa seharusnya suami yang bergaji besar. Sulit untuk melepaskan harapan itu.
 
Bersyukur, masalah di atas tidak dialami oleh pasangan berbahagia ini, Budi dan Ismi. Meskipun keduanya bekerja, namun mereka tetap bisa bekerjasama dalam mengurus urusan rumah tangga dan anak-anak, bahkan masih sempat memberikan kepedulian kepada tetangga sekitar rumahnya.

Meskipun istriku Ismi, menghasilkan uang lebih banyak, namun kita berdua masih sering mendiskusikan hal-hal yang berhubungan dengan masalah keluarga. Begitu kata Budi menerangkan tentang komunikasi yang dijalankan dengan istrinya.

Kunci langgeng dan harmonis pasangan yang istrinya berpenghasilan lebih tinggi ini adalah komunikasi. Karena dengan komunikasi, semua permasalahan yang besar akan terasa sangat ringan jika dilakukan bersama pasangan. Setiap pasangan harus mau saling mendengarkan satu sama lainnya.

Jika ada suami yang merasa rendah diri, katakan padanya jika uang semestinya bukan hal mendasar dari kekuatan hubungan pernikahan. Yakinkan suami bahwa kontribusi yang dilakukan dalam keluarga sangat berharga untuk hubungan dalam rumah tangga.

Sementara itu, untuk sang istri, janganlah merasa terlalu lebih berkuasa hanya karena berpenghasilan lebih tinggi dari suami. Tetaplah menghormati pasangan dan juga dengarkan pendapatnya.

Pastikan suami dan istri memiliki pembagian kerja yang jelas. Hal itu untuk menghindari salah satu pihak merasa terbebani untuk urusan rumah dan keluarga. Jika perlu ditulis daftar apa saja yang harus dilakukan suami dan istri.

 
Bahkan tanya dan diskusikan daftar tersebut apakah sudah terasa adil atau belum. Dengan pembagian tugas seperti itu diharapkan dapat memperkecil masalah yang timbul dalam rumah tangga. Wallahu’alam





Oleh       :  Ustadz Cepy Pramana
Sumber :  Islamedia

Read More »

Cinta dan Doa Untuk Anak Kita

0 komentar
Hari itu musim liburan sekolah dan pesantren. Tiba-tiba banyak gadis kece bertamu ke rumah seorang konsultan pendidikan, untuk bertemu dengan anaknya yang sedang berlibur.

Tahu yang datang gadis-gadis, sang ayah dan ibunda yang juga muballighah nasional menemani putranya menemui tamu-tamu itu.

“Diantara gadis-gadis itu, siapa yang kamu ada hati padanya, Nak?” tanya sang ayah kepada anaknya yang masih menimba ilmu di pesantren itu, selepas tamu-tamu tersebut pulang.
“Ah, enggak kok, Yah” jawab sang putra, dengan wajah tersipu.
“Hayoo.. siapa?” sang ayah masih mengulang pertanyaan senada, dengan nada yang lebih halus, “apakah yang berjilbab merah?”
“Enggak, Yah...”
“Jujur saja, ayah juga pernah muda kok” lanjut sang ayah sambil memeluk putranya, “Tapi ayah dan bunda sudah berdoa: ‘Ya Allah... jadikanlah anakku menjadi anak yang shalih, yang kokoh aqidahnya dan kokoh akhlaknya. Dan kelak ketika waktunya tiba, berikanlah ia jodoh wanita yang shalihah, yang kokoh aqidahnya dan kokoh akhlaknya. Sehingga ia tidak sampai menodai masa mudanya dengan pacaran.”
Mata sang anak berkaca-kaca mendengar doa sang ayah. Doa tersebut juga dituliskan oleh ayah di laman facebook anak.

“Teman-temanmu cewek kok tidak ada yang main lagi kesini?” tanya sang ayah pada musim liburan berikutnya, ketika tak ada lagi tamu-tamu cewek yang datang ke rumah itu.
“Berarti doa ayah sudah makbul” jawab sang anak. Keduanya pun tertawa akrab.

Tahukan engkau siapa orang tua tersebut? Mereka Ustadz Suhadi Fadjaray dan istrinya.

“Doa yang kita panjatkan untuk anak-anak kita adalah kunci kesuksesan parenting,” kata Ustadz Suhadi setelah menceritakan kisah tersebut dalam Parenting Education 2013 yang diselenggarakan Sekolah Al Ummah, di Gedung PPS Semen Indonesia, Gresik, Ahad (19/5).

Memiliki anak yang shalih merupakan dambaan setiap muslim. Terlebih, setelah kita meninggal, segala amal akan terputus kecuali tiga hal. Salah satunya adalah anak shalih yang mendoakan kedua orangtuanya. Menjadikan anak shalih bukanlah hal yang mudah. Seringkali anak-anak yang diibaratkan sebagai kertas putih, justru menjadi kusam dan ternoda akibat kesalahan orang tua di masa tujuh tahun pertama, terutama setelah tahun ketiga.

Orangtua pada tahun pertama “mirip” malaikat penjaga surga, selalu tersenyum dan bertindak cekatan untuk anaknya karena cinta. Meski hanya dengan tangisan, sang anak akan mendapatkan segala yang ia inginkan dari kedua orangtuanya. Sayangnya, ketika usianya telah mencapai tiga tahun, orangtua mulai suka memarahi. Masih ngompol dimarahi, menangis dimarahi, mencoba sesuatu yang baru juga dimarahi dengan alasan ‘bahaya’, ‘kotor’, dan sebagainya. Ia mulai dituntut agar bisa membaca di usia 5-6 tahun, dan dimarahi lagi ketika belum juga bisa membaca. Mulailah label “bodoh”, “nakal” dan sejenisnya dilontarkan terus menerus kepada anak.

Anak kemudian tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri, di samping kecerdasan otaknya menurun. Terbiasa dibentak dan dimarahi, ia pun belajar menyelesaikan sesuatu dengan kekerasan.

Sebaliknya, jika orangtua mampu menjaga cinta pada anaknya, dekat dengan buah hatinya, dan terus membangun komunikasi dengannya, sang anak pun tumbuh percaya diri dan dekat dengan orang tua. Bukan hanya kecerdasan intelektualnya yang terjaga, karakternya pun menjadi mulia. Kedekatan dan kasih sayang ini menjadikan sang anak, kelak ketika remaja atau menjadi pemuda, ia lebih mudah menerima nasehat dari orangtuanya.

Dan tentu saja, karena yang menguasai hati adalah Allah, maka berdoalah kepada Allah. Berdoalah kepada Allah agar hati anak kita dijaga; tetap besih, menjadi anak yang shalih.

Seusai training, dalam sesi ramah tamah bersama Pengurus Yayasan dan Komite Sekolah, Ustadz Suhadi menjelaskan mengapa orang tua zaman dulu yang tidak mengenyam pendidikan formal dengan baik, secara intelektual sangat sederhana, bahkan tidak mengikuti seminar parenting, tetapi anak-anaknya menjadi shalih dan berhasil seperti Anda? Sebab mereka memiliki doa. Mereka berdoa dengan sepenuh hati untuk kebaikan anak-anaknya. Mereka berdoa sepenuh jiwa agar Allah menjadikan keturunannya shalih dan shalihah. Mereka berdoa dengan ikhlas dan dengan khusyu’ kepadaNya. Wallahu a’lam bish shawab
 
 
 
Oleh          : Abu Nida
Sumber     : Bersama Dakwah


Read More »

Bijak Menyikapi Kesalahan Anak

0 komentar
"Kalau anak kami berbuat baik, saya yakin banyak sekali orang yang telah berkontribusi sampai dia bisa menjadi baik. Tetapi kalau anak kami berbuat tidak baik, itu adalah tanggung jawab kami sendiri sebagai orangtua. Kami tidak pantas menyalahkan siapa-siapa."

"Subhanallah, menakjubkan!" Itulah kalimat yang terlontar dari kami, para guru yang sedang mengikuti pelatihan siang itu. Pemateri kami, ustadz Setiawan Agung Wibowo menceritakan pengalaman temannya sebagai guru sekolah Jerman di Serpong untuk lebih membuka wawasan kami.

Berdasarkan kisah guru tersebut, beberapa waktu lalu seorang anak direktur salah satu perusahaan telekomunikasi swasta di Indonesia menggunakan kosa kata baru yang tidak pantas dan mengandung unsur seksual yang vulgar. Beberapa guru di sana menduga anak ini telah mengakses website yang berisi konten dewasa yang tidak pantas.

Ketika pertama kali mendengar berita ini hampir kebanyakan orang pasti berfikir, anak orang kaya sih, terlalu dimanja, makanya aneh-aneh. Atau, paling-paling anaknya bodoh makanya buka-buka website porno. Bahkan kita mungkin berpikir, pasti ini anak kurang perhatian di rumah dan orangtuanya tidak pernah mendidiknya dengan baik. Kalau memang demikian, case closed. Kita tahu siapa kambing hitamnya.


Tetapi kenyataannya tidak demikian. Meskipun secara finansial berlimpah, anak ini tidak sombong atau sok pamer kekayaan. Pembawaannya sederhana, sopan, dan kemampuan sosialnya sangat baik. Selain itu, dia adalah salah satu murid yang memiliki kemampuan menonjol di bidang Fisika dan Matematika serta berkinerja sangat baik di bidang lain. Dia keukeuh bercita-cita untuk kuliah di bidang nuklir. Kemampuan akademisnya pun sangat menunjang. Kedua orangtuanya juga penuh perhatian dan dekat kepada anak ini sampai-sampai setiap kali bapaknya tugas ke luar negeri, anak dan istrinya dibawa supaya mereka selalu dekat.


Sebelum kepala sekolah memanggil orangtua anak ini, pihak sekolah menyampaikan kekhawatiran para guru kepadanya. Tanpa banyak tarik ulur, anak ini mengaku telah mengakses situs-situs porno dan merasa kalau dirinya kecanduan. Anak ini baru berusia 13 tahun dan duduk di kelas 7. Segera setelah itu pihak sekolah menghubungi kedua orangtua anak ini dan mereka serta merta datang hari itu juga.


Kedua orangtua ini begitu solid. Kalimat pertama yang mereka ucapkan ketika bertemu pihak sekolah adalah kalimat penuh terima kasih karena mereka telah diberitahu tentang hal buruk yang dilakukan anaknya. Setelah mendengar cerita tentang anak mereka, kedua orangtua anak ini langsung mengajak pihak sekolah berdiskusi mengenai solusinya. Tidak sekalipun mereka menyalahkan internet, gadget, pengaruh negatif teman-teman anaknya, sekolah yang terlalu bebas, guru-guru yang tidak mengkontrol, pendidikan agama yang kurang, masyarakat yang rusak, informasi yang terlalu terbuka, dll. Fokus mereka hanya mencari solusi terbaik untuk anaknya.


Setelah berdiskusi panjang lebar dan mencari solusi yang ramah terhadap anak, tanpa hukuman, yaitu melalui serangkaian pendidikan untuk menggugah kesadarannya yang dilakukan di sekolah dan di rumah, pihak sekolah mengakhiri pertemuan hari itu.


"Saya berkesempatan ngobrol lebih lanjut dengan kedua orangtua ini sembari jalan di hall sekolah. Terus terang saya kagum dengan mereka berdua dan saya ungkapkan rasa salut saya kepada mereka yang fokus mencari solusi daripada mencari kambing hitam," kata ustadz Agung menirukan cerita temannya.

"Dengan rendah hati dan tidak dibuat-buat, ayah anak ini bilang, 'Kalau anak kami berbuat baik, saya yakin banyak sekali orang yang telah berkontribusi sampai dia bisa menjadi baik. Tetapi kalau anak kami berbuat tidak baik, itu adalah tanggung jawab kami sendiri sebagai orangtua. Kami tidak pantas menyalahkan siapa-siapa'," tambahnya lagi.


“Saya berharap ini jadi renungan para guru yang ada di sini,” ujarnya mengakhiri kisah ini. Saya pribadi berharap, ini bukan hanya menjadi renungan saya dan teman-teman saya tetapi juga seluruh pendidik dan orang tua. Jika orang tua dan pendidik memegang prinsip bahwa pendidikan adalah upaya perubahan maka mereka tidak akan langsung menghukum kesalahan anak.


Wallahua’lam bish shawab. [Gresia Divi]
Sumber : Bersama Dakwah


Read More »

Nasihat Khusus Untuk Suami dan Istri

0 komentar

 Wahai para suami!

1.    Apa yang memberatkanmu wahai hamba Allah untuk tersenyum di hadapan istrimu ketika masuk menemuinya, agar engkau memperoleh ganjaran dari Allah Ta'ala?

2.    Apa yang membebanimu untuk bermuka cerah ketika melihat istri dan anak-anakmu, padahal engkau akan mendapatkan pahala karenanya?

3.    Apa sulitnya apabila engkau masuk ke rumah sambil mengucapkan salam secara sempurna: “Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh,” agar engkau memperoleh tiga puluh kebaikan?

4.    Apakah yang menyusahkanmu jika engkau berkata kepada istrimu dengan perkataan yang baik, sehingga dia meridhaimu, sekalipun dalam perkataanmu tersebut agak sedikit dipaksakan?

5.    Apakah menyusahkanmu wahai hamba Allah jika engkau berdo’a: “Ya Allah. Perbaikilah istriku, dan curahkan keberkahan padanya?”

6.    Tahukah engkau bahwa ucapan yang lembut merupakan sedekah?

7.    Apa yang memberatkanmu untuk membawa hadiah (oleh-oleh) untuk istri dan anak-anakmu ketika engkau pulang dari safar?

8.    Luangkan waktumu untuk menemani istrimu membaca al-Qur-an, membaca buku-buku yang bermanfaat, dan mendatangi majlis ta’lim (majelis ilmu) yang mengajarkan al-Qur-an dan as-Sunnah menurut pemahaman para Sahabat.

9.    Tahukah engkau wahai hamba Allah, bahwa jima’ (ber­setubuh) akan mendatangkan ganjaran dari Allah? Bahkan Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda:

(( مِنْ أَمَاثِلِ أَعْمَالِكُمْ إِتْيَانُ الْحَلَالِ – يَعْنِى النِّسَاءَ. ))

“Di antara amal perbuatan kalian yang paling utama adalah mendatangi (bersetubuh) yang halal, yaitu dengan istri-istri kalian.”

[Hadits shahih: diriwayatkan oleh Ahmad (IV/231), Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ (II/26, no. 1391), dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabiir (XXII, no. 848). Lihat: Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 441)]

  Wahai para istri!

1.    Apakah yang menyulitkanmu jika engkau menemui suamimu ketika dia masuk ke rumahmu dengan wajah yang cerah sambil tersenyum manis?

2.    Beratkah bagimu untuk menghilangkan debu di wajah, kepala, dan pakaian suamimu kemudian engkau men­ciumnya?

3.    Berhiaslah untuk suamimu dan raihlah pahala di sisi Allah Ta'ala. Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan, gunakanlah wangi-wangian! Bercelaklah! Berpakaianlah dengan busana terindah yang kau miliki untuk menyambut kedatangan suamimu. Ingat, janganlah sekali-kali engkau bermuka muram dan cemberut di hadapannya!

4.    Janganlah engkau melembutkan suaramu kepada laki-laki yang bukan mahram sehingga terfitnahlah orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit, sehingga ia ber-prasangka buruk kepadamu!

5.    Jadilah seorang istri yang memiliki sifat lapang dada, tenang, dan selalu ingat kepada Allah di dalam segala keadaan!

6.    Ringankanlah segala beban suami, baik berupa musibah, luka, dan kesedihan!

7.    Didiklah anak-anakmu dengan baik, penuhilah rumahmu dengan tasbih, takbir, tahmid, dan tahlil; serta perbanyaklah membaca al-Qur-an, khususnya surat Al-Baqarah, karena surat tersebut dapat mengusir syaitan!

8.    Bangunkanlah suamimu untuk mengerjakan shalat malam, anjurkanlah dia untuk berpuasa sunnah dan ingatkanlah dia kembali tentang keutamaan berinfak; serta janganlah melarangnya untuk berbuat baik kepada orang tua dan menjaga tali silaturahim!

9.    Perbanyaklah istighfar untuk dirimu, suamimu, orang tuamu, dan semua kaum Muslimin; serta berdo’alah selalu agar diberikan keturunan yang shalih dan memperoleh kebaikan dunia dan akhirat; dan ketahuilah bahwa Rabbmu Maha Mendengar do’a. Sebagaimana firman Allah Ta'ala:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

    “Dan Rabb kalian berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan untuk kalian ....” (QS. Al-Mu’min [40]: 60)

10.    Bersihkanlah rumahmu dari segala gambar-gambar makhluk hidup, alat-alat yang melalaikan, alat-alat musik, dan segala sesuatu yang dapat merusak!




Diringkas dari Fiqhut Ta’aamul Baina az-Zaujaini wa Qabasat min Baitin Nubuwwah (hlm. 107-112) karya Abu ‘Abdillah Mushthafa bin al-‘Adawi, cet I/Darul Qasim, dengan sedikit tambahan dari penulis.

Sumber:
Panduan Keluarga Sakinah hlm 229 - 233 Cet. VIII / Jan 2012.
Penulis Yazid Abdul Qadir Jawas. Penerbit PUSTAKA IMAM ASY-SYAFI'I Jakarta.

http://pustakaimamsyafii.com/pernikahan.html


Read More »

Andai Aku Tidak Menikah Dengannya

0 komentar
Bismillaah...

Sebenarnya kajian ini kebanyakan ditujukan untuk para suami, kaum lelaki.

Pernikahan adalah suatu perjanjian yang besar, suatu pertanggungjawaban yang berat bagi seorang laki-laki yang mana dia mengambil seorang wanita dari kedua orangtuanya untuk hidup bersamanya dalam sebuah bahtera yang bernama rumah tangga yang dipimpin olehnya.

Istri adalah suatu amanat bagi suami. Suami karena menjadi qowwam (pemimpin) bagi wanita.

Pemimpin (qowwam) ini harus memenuhi 3 fungsi, yaitu :

1) Mengarahkan istrinya.

2) Mengayomi istrinya.

3) Melindungi istrinya.

Suatu penikahan yang merupakan suatu ibadah itu kuat sekali digoda oleh syaitan agar rumah tangganya karam. Oleh karena itu sangat-sangat penting bagi seorang suami untuk memahami tabiat wanita.

Karena wanita itu bukan diciptakan dari baja yang bisa meleleh, bukan pula dari batu yang bisa hancur berkeping-keping jadi kerikil, tetapi wanita diciptakan dari tulang rusuk yang paling bengkok, yang jika diubah akan patah, namun jika tidak diubah akan tetap bengkok, oleh karena itu Rasulullah pun tidak menyuruh lelaki untuk mengubahnya, namun Beliau berwasiat: JAGALAH WANITA-WANITA ITU.

 Pelan-pelan dan berlemah lembutlah pada wanita. Sehingga setelah memahami tabiatnya,kemudian memperlakukannya dengan ma'ruf, dengan sebaik-baiknya, seperti firman Allah :

"Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." QS. An-Nisaa (4) : 19

Pada saat seorang suami mendapati hal yang tidak disukainya dari seorang istri, maka harus bersabar, dan berpikir baik-baik tentang firman Allah yang menyatakan bahwa boleh jadi dalam keburukan istri kita itu terdapat kebaikan-kebaikan lainnya yang banyak. Jangan sampai keburukan akhlaq dari suami menyampaikan sang istri pada satu situasi dimana ia sangat menyesal dan berkata : "ANDAI AKU TIDAK MENIKAH DENGANNYA".

Padahal suatu pengandaian itu hanya akan membuka pintu syaithan. Tabiat-tabiat Wanita diantaranya adalah :

1) Pencemburu. Baik kepada ibu sang suami, saudara/saudari sang suami, wanita-wanita lain, dll.

2) Perasa. Perasaannya melebihi akalnya sehingga kadang-kadang mudah marah.

3) Suka Perhiasan.

4) Istri membutuhkan pujian/sanjungan dari suami. Hargai pendapatnya, jangan egois.

5) Sempatkan waktu untuk bermain-main dengan istri. Suami berhias atau bersolek untuk istri.

6) Memberi istri hadiah.

 7) Main tarik ulur. Bersabar, jgn tergesa-gesa.

Setelah istri menunaikan kewajiban, penuhilah hak-haknya, karena kalau tidak, dia akan mencari haknya di tempat lain. Istri itu seprti wadah yang akan kekeringan jika tidak terus diisi air. Karena jika ia kekeringan, ia akan mencari di tempat lain yang bisa menghapus dahaganya. Ia akan mencari tempat curhat lain selain suami. Firman Allah :

"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anak mu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kau terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" QS. At-Taghobun (64) : 14

Merupakan nasihat bagi suami apabila ada masalah dengan istri maka :

1) Maafkan dia (tidak memberikan sangsi atas kesalahan)

2) Tidak menjelek-jelekkan dgn perkataan.

3) Lupakan (maghfirah). Buka lembaran baru.

4) Seorang wanita menikah untuk mendapatkan kebahagiaan, sakinah, ketenangan, bukan hanya kebutuhan biologis, bukan pula hanya uang. Hidup ini sangat singkat, jangan sampai di akhirat datang dengan keadaan tulang rusuk yang terjatuh.

Wasiat untuk suami dan istri : JADILAH MANUSIA TERBAIK.

Dimana manusia yang terbaik adalah YANG TERBAIK KEPADA ISTRINYA, DAN KELUARGANYA.

Wasiat untuk istri : JADILAH WANITA YANG TERBAIK, yang bila dipandang menyenangkan, dan bila ditinggalkan menjaga kehormatan dan harta suami. Suami adalah SURGA DAN NERAKA kita.

Syarat kriteria seorang lelaki yang baik untuk dipilih ~menurut Rasulullah~ untuk menjadi suami ada 2, yaitu :

Agamanya dan Akhlaqnya. Tidak hanya salah satunya, namun harus keduanya.

Wallahu'alam.

Semoga yang sederhana ini bermanfaat untuk ku dan untukmu (saudara-saudara ku seiman)


DR. Syafiq Riza Basalamah MA
Sumber  : Voa-Islam

DR. Syafiq Riza Basalamah MA
DR. Syafiq Riza Basalamah MA

Read More »

Kisah Istri Shaleha

0 komentar

Seorang istri menceritakan kisah suaminya pada tahun 1415 H, ia berkata :

Suamiku adalah seorang pemuda yang gagah, semangat, rajin, tampan, berakhlak mulia, taat beragama, dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Ia menikahiku pada tahun 1390 H. Aku tinggal bersamanya (di kota Riyadh) di rumah ayahnya sebagaimana tradisi keluarga-keluarga Arab Saudi. Aku takjub dan kagum dengan baktinya kepada kedua orang tuanya. Aku bersyukur dan memuji Allah yang telah menganugerahkan kepadaku suamiku ini. Kamipun dikaruniai seorang putri setelah setahun pernikahan kami.

Lalu suamiku pindah kerjaan di daerah timur Arab Saudi. Sehingga ia berangkat kerja selama seminggu (di tempat kerjanya) dan pulang tinggal bersama kami seminggu. Hingga akhirnya setelah 3 tahun, dan putriku telah berusia 4 tahun… Pada suatu hari yaitu tanggal 9 Ramadhan tahun 1395 H tatkala ia dalam perjalanan dari kota kerjanya menuju rumah kami di Riyadh ia mengalami kecelakaan, mobilnya terbalik. Akibatnya ia dimasukkan ke Rumah Sakit, ia dalam keadaan koma. Setelah itu para dokter spesialis mengabarkan kepada kami bahwasanya ia mengalami kelumpuhan otak. 95 persen organ otaknya telah rusak. Kejadian ini sangatlah menyedihkan kami, terlebih lagi kedua orang tuanya lanjut usia. Dan semakin menambah kesedihanku adalah pertanyaan putri kami (Asmaa') tentang ayahnya yang sangat ia rindukan kedatangannya. Ayahnya telah berjanji membelikan mainan yang disenanginya…
Kami senantiasa bergantian menjenguknya di Rumah Sakit, dan ia tetap dalam kondisinya, tidak ada perubahan sama sekali. Setelah lima tahun berlalu, sebagian orang menyarankan kepadaku agar aku cerai darinya melalui pengadilan, karena suamiku telah mati otaknya, dan tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya. Yang berfatwa demikian sebagian syaikh -aku tidak ingat lagi nama mereka- yaitu bolehnya aku cerai dari suamiku jika memang benar otaknya telah mati. Akan tetapi aku menolaknya, benar-benar aku menolak anjuran tersebut.

Aku tidak akan cerai darinya selama ia masih ada di atas muka bumi ini. Ia dikuburkan sebagaimana mayat-mayat yang lain atau mereka membiarkannya tetap menjadi suamiku hingga Allah melakukan apa yang Allah kehendaki.

Akupun memfokuskan konsentrasiku untuk mentarbiyah putri kecilku. Aku memasukannya ke sekolah tahfiz al-Quran hingga akhirnya iapun menghafal al-Qur'an padahal umurnya kurang dari 10 tahun. Dan aku telah mengabarkannya tentang kondisi ayahnya yang sesungguhnya. Putriku terkadang menangis tatkala mengingat ayahnya, dan terkadang hanya diam membisu.

Putriku adalah seorang yang taat beragama, ia senantiasa sholat pada waktunya, ia sholat di penghujung malam padahal sejak umurnya belum 7 tahun. Aku memuji Allah yang telah memberi taufiq kepadaku dalam mentarbiyah putriku, demikian juga neneknya yang sangat sayang dan dekat dengannya, demikian juga kakeknya rahimahullah.

Putriku pergi bersamaku untuk menjenguk ayahnya, ia meruqyah ayahnya, dan juga bersedekah untuk kesembuhan ayahnya.
Pada suatu hari di tahun 1410 H, putriku berkata kepadaku : Ummi biarkanlah aku malam ini tidur bersama ayahku...
Setelah keraguan menyelimutiku akhirnya akupun mengizinkannya.

Putriku bercerita :

Aku duduk di samping ayah, aku membaca surat Al-Baqoroh hingga selesai. Lalu rasa kantukpun menguasaiku, akupun tertidur. Aku mendapati seakan-akan ada ketenangan dalam hatiku, akupun bangun dari tidurku lalu aku berwudhu dan sholat –sesuai yang Allah tetapkan untukku-.

Lalu sekali lagi akupun dikuasai oleh rasa kantuk, sedangkan aku masih di tempat sholatku. Seakan-akan ada seseorang yang berkata kepadaku, "Bangunlah…!!, bagaimana engkau tidur sementara Ar-Rohmaan (Allah) terjaga??, bagaimana engkau tidur sementara ini adalah waktu dikabulkannya doa, Allah tidak akan menolak doa seorang hamba di waktu ini??"

Akupun bangun…seakan-akan aku mengingat sesuatu yang terlupakan…lalu akupun mengangkat kedua tanganku (untuk berdoa), dan aku memandangi ayahku –sementara kedua mataku berlinang air mata-. Aku berkata dalam do'aku, "Yaa Robku, Yaa Hayyu (Yang Maha Hidup)…Yaa 'Adziim (Yang Maha Agung).., Yaa Jabbaar (Yang Maha Kuasa)…, Yaa Kabiir (Yang Maha Besar)…, Yaa Mut'aal (Yang Maha Tinggi)…, Yaa Rohmaan (Yang Maha Pengasih)…, Yaa Rohiim (Yang Maha Penyayang)…, ini adalah ayahku, seorang hamba dari hamba-hambaMu, ia telah ditimpa penderitaan dan kami telah bersabar, kami Memuji Engkau…, kemi beriman dengan keputusan dan ketetapanMu baginya…

Ya Allah…, sesungguhnya ia berada dibawah kehendakMu dan kasih sayangMu.., Wahai Engkau yang telah menyembuhkan nabi Ayyub dari penderitaannya, dan telah mengembalikan nabi Musa kepada ibunya…Yang telah menyelamatkan Nabi Yuunus dari perut ikan paus, Engkau Yang telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim…sembuhkanlah ayahku dari penderitaannya…

Ya Allah…sesungguhnya mereka telah menyangka bahwasanya ia tidak mungkin lagi sembuh…Ya Allah milikMu-lah kekuasaan dan keagungan, sayangilah ayahku, angkatlah penderitaannya…"

Lalu rasa kantukpun menguasaiku, hingga akupun tertidur sebelum subuh.

Tiba-tiba ada suara lirih menyeru.., "Siapa engkau?, apa yang kau lakukan di sini?". Akupun bangun karena suara tersebut, lalu aku menengok ke kanan dan ke kiri, namun aku tidak melihat seorangpun. Lalu aku kembali lagi melihat ke kanan dan ke kiri…, ternyata yang bersuara tersebut adalah ayahku…

Maka akupun tak kuasa menahan diriku, lalu akupun bangun dan memeluknya karena gembira dan bahagia…, sementara ayahku berusaha menjauhkan aku darinya dan beristighfar. Ia barkata, "Ittaqillah…(Takutlah engkau kepada Allah….), engkau tidak halal bagiku…!". Maka aku berkata kepadanya, "Aku ini putrimu Asmaa'". Maka ayahkupun terdiam. Lalu akupun keluar untuk segera mengabarkan para dokter. Merekapun segera datang, tatkala mereka melihat apa yang terjadi merekapun keheranan.

Salah seorang dokter Amerika berkata –dengan bahasa Arab yang tidak fasih- : "Subhaanallahu…". Dokter yang lain dari Mesir berkata, "Maha suci Allah Yang telah menghidupkan kembali tulang belulang yang telah kering…". Sementara ayahku tidak mengetahui apa yang telah terjadi, hingga akhirnya kami mengabarkan kepadanya. Iapun menangis…dan berkata, اللهُ خُيْرًا حًافِظًا وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِيْنَ Sungguh Allah adalah Penjaga Yang terbaik, dan Dialah yang Melindungi orang-orang sholeh…, demi Allah tidak ada yang kuingat sebelum kecelakaan kecuali sebelum terjadinya kecelakaan aku berniat untuk berhenti melaksanakan sholat dhuha, aku tidak tahu apakah aku jadi mengerjakan sholat duha atau tidak..??

          Sang istri berkata : Maka suamiku Abu Asmaa' akhirnya kembali lagi bagi kami sebagaimana biasnya yang aku mengenalinya, sementara usianya hampir 46 tahun. Lalu setelah itu kamipun dianugerahi seorang putra, Alhamdulillah sekarang umurnya sudah mulai masuk tahun kedua. Maha suci Allah Yang telah mengembalikan suamiku setelah 15 tahun…, Yang telah menjaga putrinya…, Yang telah memberi taufiq kepadaku dan menganugerahkan keikhlasan bagiku hingga bisa menjadi istri yang baik bagi suamiku…meskipun ia dalam keadaan koma…

Maka janganlah sekali-kali kalian meninggalkan do'a…, sesungguhnya tidak ada yang menolak qodoo' kecuali do'a…barang siapa yang menjaga syari'at Allah maka Allah akan menjaganya.

Jangan lupa juga untuk berbakti kepada kedua orang tua… dan hendaknya kita ingat bahwasanya di tangan Allah lah pengaturan segala sesuatu…di tanganNya lah segala taqdir, tidak ada seorangpun selainNya yang ikut mengatur…

Ini adalah kisahku sebagai 'ibroh (pelajaran), semoga Allah menjadikan kisah ini bermanfaat bagi orang-orang yang merasa bahwa seluruh jalan telah tertutup, dan penderitaan telah menyelimutinya, sebab-sebab dan pintu-pintu keselamatan telah tertutup…

Maka ketuklah pintu langit dengan do'a, dan yakinlah dengan pengabulan Allah….
Demikianlah….Alhamdulillahi Robbil 'Aaalamiin (SELESAI…)

          Janganlah pernah putus asa…jika Tuhanmu adalah Allah…
          Cukup ketuklah pintunya dengan doamu yang tulus…
          Hiaslah do'amu dengan berhusnudzon kepada Allah Yang Maha Suci
          Lalu yakinlah dengan pertolongan yang dekat dariNya…
(sumber : http://www.muslm.org/vb/archive/index.php/t-416953.html , Diterjemahkan oleh Firanda Andirja)

Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 19-11-1434 H / 25 September 2013 M
www.firanda.com


Read More »