• MUHASABAH

    Saat Status Berubah

  • KISAH ULAMA

    Shalahuddin: Pahlawan yang Dihormati Kawan dan Lawan

  • CINTA

    Aku Sebut Ini Cinta

  • HIKMAH

    Sayangi yang Ada di Bumi, Engkau Disayangi Penduduk Langit

  • KELUARGA MUSLIM

    Jalan Panjang Bernama Pernikahan

Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Sayangi yang Ada di Bumi, Engkau Disayangi Penduduk Langit

0 komentar

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مَنْ لَا يَرْحَمْ مَنْ فِي الْاَرْضِ لَا يَرْحَمْهُ مَنْ فِي السَّمَاءِ –الطبراني
Artinya: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, ”Barangsiapa tidak menyayangi siapa (yang berada) di bumi maka tidak menyayanginya siapa (yang berada) di langit”.(Riwayat Ath Thabarani, dan dishahihkan oleh Al Hafidz As Suyuthi)
Al Allamah Al Munawi menjelaskan bahwa yang dalam riwayat yang lain disebutkan penduduk langit sebagai ganti daripada siapa (yang berada) di langit.
Dalam syarh Al Hikam disebutkan, bahwa seseorang bermimpi bertemu dengan dengan saudaranya yang telah wafat, kemudian ia pun bertanya mengenai perihalnya, ”Apa  yang telah Allah lakukan terhadapmu?” Saudaranya itu pun menjawab,”Allah mengampuniku dan menyayangiku, hal itu disebabkan saat aku melalui jalanan di Baghdad dalam keadaan hujan deras, aku menyaksikan seekor kucing kedinginan, aku pun merasa kasihan lalu aku ambil dia dan kuletakkan dibalik pakaiannku.” (Lihat, Faidh Al Qadir, 6/239)




Rep: Sholah Salim


Read More »

Ada Pertemuan, Ada Perpisahan

0 komentar

Di mana ada pertemuan, pasti akan ada perpisahan. Di mana ada awal, pasti akan ada akhir. That’s life.

Ketika akhir sebuah perjalanan akan menjadi awal perjalanan yang lain, dan sebuah perpisahan akan menjadi pertemuan dengan sesuatu yang baru. And that’s more about life.

Di dalam hidup, banyak orang yang datang dan pergi

Allah telah menjumpakan kita dengan orang-orang yang Dia telah gariskan dalam catatan takdir

Mereka pun datang silih berganti
Ada yang melintas dalam segmen singkat, namun membekas di hati.

Ada yang telah lama berjalan beiringan, tetapi tak disadari arti kehadirannya
Ada pula yang begitu jauh di mata, sedangkan penampakannya melekat di hati.
Ada yang datang pergi begitu saja seolah tak pernah ada.

Semua orang yang pernah singgah dalam hidup kita bagaikan kepingan puzzle
yang saling melengkapi dan membentuk sebuah gambaran kehidupan
Maka sudah fitrah, bila ada pertemuan pasti ada perpisahan..

Di mana ada awal, pasti akan ada akhir.
Akhir sebuah perjalanan, ia akan menjadi awal bagi perjalanan lainnya,,,
Sebuah perpisahan, ia akan menjadi awal pertemuan dengan sesuatu yang baru… well, That’s life must be

Ketika akhir sebuah perjalanan akan menjadi awal perjalanan yang lain, dan sebuah perpisahan akan menjadi pertemuan dengan sesuatu yang baru. And that’s more about life.


Kalau kita tidak bisa berjumpa lagi di dunia, moga Allah mengumpulkan kita di jannah (surga).

Semoga kita teringat akan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menerangkan mengenai tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari yang tiada naungan selain dari-Nya.

Di antara golongan tersebut adalah,

وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِى اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ

“Dua orang yang saling mencintai karena Allah. Mereka berkumpul dan berpisah dengan sebab cinta karena Allah.” (HR. Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031)

Orang yang mencinta akan dikumpulkan bersama orang yang dicinta di akhirat kelak.

Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”Orang tersebut menjawab, “Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“Kalau begitu engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari no. 6171 dan Muslim no. 2639)

Yang kami harap, moga persaudaraan kita tidak hanya di dunia, namun berakhir pula di jannah.
Di dunia -selama hidup- moga kita saling menghendaki kebaikan satu dan lainnya.




Artikel Rumaysho.com

Read More »

Kisah Nyata, Taubatnya Kader LDII

0 komentar

Taubat © LZ Studio
Perjalanan hidup seseorang adalah satu dari sekian banyaknya misteri dalam kehidupan di dunia ini.

Mereka yang terlahir dalam Islam, belum tentu mati dalam keadaan muslim.

Sementara itu, orang yang bergelimang dalam kubangan dosa, jika Allah Berkehendak, maka bisa jadi, orang tersebut bertaubat sebelum Izroil datang menjemput.

Oleh karena itu, kita harus selalu berupaya untuk mencari kebenaran hakiki, hingga maut mengetuk pintu kehidupan kita.

Hal inilah, yang saya fahami dari perjalanan hidup seorang teman. Sebut saja namanya Fahri. Kini, usianya sudah menjelang 40 tahun, satu istri dan empat anak. Petualangannya mencari kebenaran, terbilang unik. Apalagi, pria berbadan ideal yang piawai dalam mengola kulit bundar ini, pernah lama tergabung dalam kader LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia). Sebuah lembaga yang pernah difatwakan sesat oleh Majlis Ulama’ Indonesia.

Dari kisahnya yang dituturkan tempo hari, akhirnya kita bisa menelisik lebih dalam tentang pola organisasi dan pengkaderan lembaga yang sudah berkali-kali menganti namanya ini, tanpa harus terjun di dalamnya.

“Ibu saya itu, anak terakhir dari tujuh bersaudara. Dari ketujuh bersaudara itu, Ibulah satu-satunya anggota keluarga yang bergabung dalam kader dan pengurus LDII,” ujarnya, mengawali kisah, seraya menerawang ke langit-langit bangunan tempat kami bercakap-cakap.

“Ibu memiliki tujuh anak juga, Mas. Semuanya dikader oleh beliau di LDII. Saya termasuk di dalamnya. Namun, lantaran satu dan banyak sebab, saya menjadi satu-satunya anak ibu yang keluar dari LDII, dengan terhormat,” lanjutnya, diiringi tawa ketika menyebut kata ‘terhormat’ pada akhir kalimatnya itu.

“Di LDII, saya masuk dalam jajaran petinggi, Mas. Tapi saya lebih suka bermain di balik layar. Jadi, hampir semua kader LDII di kota ini, insya Allah mengenal saya,” Fahri melanjutkan tuturnya, dengan bersemangat.

“Apalagi, saya tergabung dalam klub sepak bola binaan LDII. Jadi -selain memiliki kelompok-kelompok kajian untuk kader-kadernya- mereka juga mempunyai klub olahraga. Bahkan, dalam jajaran pengurus, mereka memiliki jabatan-jabatan sampai tingkat koordinator desa hingga ke RW.” Kisah lelaki berambut panjang ini, selalu menarik untuk dicermati, lantaran mata, dan anggota badannya turut berbicara.

“Di tingkat keluarga, hampir semua anak kader pasti ikut pembinaan di kajian itu. Yang dibahas, adalah al-Qur’an dan aneka jenis kitab hadits. Serta, sebuah kitab khusus yang ditulis oleh pendiri LDII yang kita sebut dengan Imam. Nah, dalam tingkat ketaatan dengan imam LDII ini, saya menemukan banyak cela hingga akhirnya saya menemukan banyak kejanggalan.” Ceritanya makin seru, semakin banyak data yang dia ungkap, dengan gamblang.
“Salah satu contoh, dalam kajian tersebut, mereka selalu menyebut kaum muslimin yang tidak ikut bai’at (janji setia) terhadap Imam LDII dengan sebutan kafir. Di sini, hati saya memberontak. Mereka dengan mudah mengkafirkan orang lain, padahal Nabi juga tidak berlaku demikian.” Diam-diam, dia yang hobi main musik ini, ternyata memiliki kedalaman pemahaman tentang Islam juga.

“Kan gak logis, tho Mas? Jadi semua yang gak dibai’at itu dianggap kafir. Meskipun saudara dan anggota keluarganya sendiri. Ketika itu, saya belum berani keluar, dengan banyak pertimbangan, dan saya harus memenangkan dialog di hati saya ini dulu, hehe,” ujar pria penyuka klub sepak bola asal Jerman itu.

Ia melanjutkan kisah, dengan semangat baja. Hingga akhirnya, dia mencintai seorang wanita yang bukan angota LDII. Dilema tentunya. Karena menikah dengan bukan anggota LDII, bermakna bahwa dia harus keluar dari organisasi itu atau mengajak pasangannya untuk bergabung.

Lantas, atas usul dari sang ibu, syarat yang harus dipenuhi adalah agar wanita calon istrinya itu, mengikuti kajian di LDII. Lantaran cinta yang tak kenal rintangan, dilakukanlah upaya itu. Fahri mengajak wanita tersebut untuk mengaji di LDII, sebelum mereka akhirnya menikah. Wanita calon istrinya ini merupakan anak kader Muhammadiyah. Dimana di dalam keluarganya, selalu mengedepankan keterbukaan, dan teliti dalam setiap pengamalan ajaran Islam yang dianutnya.

Karena Allah, menikahlah dua pasangan ini, “Alhamdulillah, akhirnya kami menikah. Misi awal saya, mengajak agar istri bergabung dalam gerbong LDII.”

“Tapi, perjalanan hidup memang tidak ada yang tahu, Mas. Apalagi, keraguan saya semakin menumpuk, dan saya sering diajak diskusi dengan mertua yang sangat faham tentang Islam. Sayangnya, sekarang ini, mertua saya sudah wafat.” Semangatnya mendadak meredup ketika menyebut kepergian mertua yang dia sayangi itu.

“Hal lain yang membuat saya ragu, bahwa di LDII, kalau shalat harus diimami oleh sesama orang LDII. Makanya, setiap Jum’at, mereka tak pernah shalat Jum’at berjama’ah di masjid kaum muslimin. Mereka selalu mengadakan sholat sendiri di masjid mereka. Meskipun tempatnya jauh, sementara di sampingnya ada masjid yang mengadakan shalat Jum’at berjama’ah juga.” Ia kembali membeberkan sebab-sebab yang melahirkan keraguannya terhadap lembaga yang dulu pernah bernama LEMKARI ini.

“Ketika itu, saya bertanya, ‘Berarti kalau kita ikut jama’ah haji, shalatnya gak sah dong? Kan imam di sana bukan orang LDII? Atau, kita harus sholat sendiri-sendiri dengan meninggalkan keutamaan shalat berjama’ah?’” pertanyaan ini, tak bisa dijawab oleh ustadznya di LDII kala itu.

“Alhamdulillahnya, atas izin Allah, setelah menimbang masak-masak dan hasil dari perenungan saya, akhirnya saya memilih untuk keluar. Istri juga saya ajak keluar, Mas.” Jadi, inilah satu diantara banyaknya keanehan dalam hidup ini. Ia yang awalnya mempunyai misi menjadikan istrinya sebagai kader LDII, selepas menikah, justru dialah yang kembali mengeluarkan istrinya dari organisasi berlambang pohon beringin dan timbangan itu. Unik, tapi begitulah kehidupan.

“Untungnya, saya ini bukan tipe pendakwah, mas. Jadi saya tidak menyebarkan cerita-cerita ini kepada khalayak secara umum. Sehingga, saya aman. Tidak pernah dimata-matai ataupun diteror. Sehingga, sampai sekarang pun, saya tetap menjalin hubungan baik dengan keluarga dan sahabat-sahabat saya di LDII.” Pasalnya, banyak mantan kader LDII yang harus menghadapi perlakuan tak mengenakan lantaran ‘murtad’ dari organisasinya itu.

Ceritapun berakhir, di senja yang menyemburatkan semangat itu, “Doakan saya, Mas. Agar saya istiqomah dan selalu dalam lindungan Allah. Saya berharap, semoga keluarga saya segera mendapat hidayah dan kembali ke dalam ajaran Islam yang benar.”

Kami pun mengakhiri kisah dengan saling menjabat tangan, melempar senyum dan mengucap salam sambil berpamitan. Sungguh, dalam setiap jenak kehidupan, selalu ada kisah yang bisa menguatkan pijakan kita di jalan yang Allah ridhoi. Tentu, bagi siapa yang mau mengambil pelajaran dan tak lelah untuk terus memperbaiki diri. Semoga kisah ini, membuat kita semakin waspada, bahwa setan, tak kan pernah berhenti menggoda, hingga ajal menjemput kita.

Semoga kita istiqomah, hingga mati. Aamiin.






Oleh     :  Firman
Artikel Bersama Dakwah.com

Read More »

Ketika Sang Idola Membuat Kecewa

0 komentar
Jangan melihat siapa yang membicarakan, tapi lihatlah apa yang dibicarakan.

Mungkin pesan bijak inilah yang perlu kita perhatikan dalam menghadapi suatu masalah sebelum komentar.

Bersikap objektif dalam menerima dan memberikan respon tanpa harus melibatkan ego yang terkadang justru memancing emosi.

Sebuah telur, (maaf) meski keluar dari dubur binatang, dia tetaplah telur yang kita sukai karena manfaatnya.

Sebaliknya, meski keluar dari mulut seorang yang dianggap tinggi, terpandang atau mulia sekalipun, tidak ada seorangpun yang mau menerima muntahannya. Seekor ayam, meski dia hanyalah hewan yang derajatnya lebih rendah dari manusia, seringkali memakan sampah, kotoran, bergonta-ganti pasangan, namun tetaplah ketika dia mengeluarkan telur, kita semua setuju, itu semua tidak mengurangi manfaat dari telur itu sendiri.

Seorang tokoh terpandang, dianggap mulia, ketika dia mengeluarkan ucapan-ucapan kotor, bertentangan dengan norma-norma susila, agama, apakah lantas kita membenarkannya lantaran yang mengucapkannya orang yang kita hormati, kita segani? Tentu saja tidak.

Kita seringkali menempatkan seseorang sebagai tokoh idola kita, entah karena profesinya, kepintarannya atau juga karena fisiknya yang kita anggap lebih dari kita dan bisa kita jadikan sebagai acuan untuk langkah kita menjalani kehidupan sehari-hari. Ucapan, gaya hidup dan segala yang ada pada tokoh idola kita sedikit banyak membawa pengaruh dalam kehidupan kita.

Mengagumi seorang tokoh sampai kepada mengidolakan, secara berlebihan bisa menyebabkan kekaguman yang membabi buta sehingga seringkali mengakibatkan kita menjadi subjektif dalam menyikapi satu permasalahan. Manakala sang idola masih kita puja-puja, segala tutur kata yang dia keluarkan seolah semua menjadi benar dan perlu bahkan wajib untuk kita ikuti, segala gaya hidup dan tingkah laku menjadi tolak ukur dan patokan untuk kehidupan sehari-hari.

Namun Ketika sang idola melakukan satu keputusan, atau tindakan atau kebijakan yang tidak sesuai dengan hati kita (dan memang tidak selamanya harus sesuai ) maka muncullah sifat arogan kita, yang kemudian merubah kekaguman itu menjadi kebencian.Dari yang semula ucapan penuh pujian tiba-tiba berubah menjadi cacian dan hujatan yang bertubi-tubi tertuju pada sang idola padahal belum tentu itu kesalahan sang idola.

Bisa jadi tindakan sang idola itu wajar-wajar saja, manusiawi bahkan tidak bertentangan dengan aturan manapun, tetapi terkadang kebenaran memang tidak bisa langsung diterima khususnya bagi yang belum mengerti dan memahaminya. Rasa simpatik berganti menjadi permusuhan atau paling tidak hilang sudah, bahkan sifat oragan mengantarkan kita pada hujatan-hujatan yang merendahkan, seolah-olah kita jauh lebih mulia dari orang yang kita hujat.

Pernahkan kita berfikir, manakala sang idola begitu kita percaya, kita kagumi bukan saja karena kepribadiannya, kesopanannya, kesantunannya namun karena nasihat yang memang benar adanya, sejauh mana kita bisa mengikuti, melaksanakan nasihat-nasihatnya? Bisa jadi baru sebagian kecil dari nasihat-nasihatnya yang kita pahami, kita laksanakan, atau bahkan baru kita dengarkan saja.

Berbagai keterbatasan menjadi alasan kita membenarkan diri untuk tidak mengikuti nasihatnya. Tapi ketika kita tidak setuju dengan pilihan sang idola, kita berubah menjadi penghujat yang seolah-olah jauh lebih mulia. Kita begitu senangnya mengeluarkan statemen-statemen yang memojokan.

Sebenarnya apabila kita ingin mengidolakan seseorang, tidak ada satu manusiapun yang patut untuk kita jadikan idola selain Rosululloh SAW, satu-satunya manusia paling mulia
Terlepas dari benar tidaknya pilihan sang idola, terkadang kita lupa bahwa seorang yang kita idolakan itu hanyalah seorang manusia biasa, sama seperti kita, penuh dengan khilaf dan dosa. Bisa saja pilihannya salah, namun bisa saja benar, hanya saja justu kita yang belum memahami serta terlalu banyak berharap dan menuntut dari sang idola.

Baik dimata Allah maupun di mata makhluk. Ada satu jaminan bahwa apabila kita mengidolakan Rosululloh SAW, tidak ada kekecewaan dan kekeliaruan. Tidak ada keraguan akan mulianya akhlak beliau. Tidak ada kesesatan selama kita mengikuti jejak langkahnya. Tidak ada permusuhan selama kita ikuti nasihat-nasihatnya.

Tidak ada kebencian selama kita istiqomah di belakangnya. Beliaulah manusia yang memiliki akhlak Al-Qur’an. Beliaulah manusia yang patut dan sudah seharusnya menjadi idola sejati kita, bukan mereka yang memiliki suara bagus, rupa yang menawan, prestasi yang tinggi, karir yang mapan, yang sebenarnya masih ada kesamaan dengan kita yaitu tidak pernah lepas dari khilaf dan dosa.


Artikel Era Muslim.com

Read More »

Mengobati ‘Galau’ dengan Tazkiyatun Nafs

0 komentar

shock
Dalam bahasa Arab, penyucian jiwa disebut sebagai tazkiyatun nafs, yang terdiri dari dua kata: at-tazkiyah dan an-nafs. At-tazkiyah bermakna at-tath-hiir, yaitu penyucian atau pembersihan.

Dan karena itulah zakat, yang satu akar dengan kata at-tazkiyah disebut zakat karena ia kita tunaikan untuk membersihkan/menyucikan harta dan jiwa kita.

Adapun kata an-nafs (bentuk jamaknya: anfus dan nufus) berarti jiwa atau nafsu. Dengan demikian tazkiyatun nafs berarti penyucian jiwa atau nafsu kita.

Namun at-tazkiyah tidak hanya memiliki makna penyucian. At-tazkiyah juga memiliki makna an-numuww, yaitu tumbuh. Maksudnya, tazkiyatun nafs itu juga berarti menumbuhkan jiwa kita agar bisa tumbuh sehat dengan memiliki sifat-sifat yang baik/terpuji.

Dari tinjauan bahasa diatas, bisa kita simpulkan bahwa tazkiyatun nafs itu pada dasarnya melakukan dua hal.

Pertama, menyucikan jiwa kita dari sifat-sifat (akhlaq) yang buruk/tercela (disebut pula takhalliy – memakai kha’), seperti kufur, nifaq, riya’, hasad, ujub, sombong, pemarah, rakus, suka memperturutkan hawa nafsu, dan sebagainya.

Kedua, menghiasinya jiwa yang telah kita sucikan tersebut dengan sifat-sifat (akhlaq) yang baik/terpuji (disebut pula tahalliy – memakai ha’), seperti ikhlas, jujur, zuhud, tawakkal, cinta dan kasih sayang, syukur, sabar, ridha, dan sebagainya.

Mengapa tazkiyatun nafs itu penting?

Setidak-tidaknya ada tiga alasan mengapa tazkiyatun nafs itu penting. Alasan pertama, karena tazkiyatun nafs merupakan salah satu diantara tugas Rasulullah saw diutus kepada umatnya. Allah SWT berfirman dalam QS Al-Jumu’ah: 2: “Dia-lah (Allah) yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” Senada dengan itu, Allah SWT juga berfirman dalam QS Al-Baqarah: 151: “Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu), Kami telah mengutus kepadamu rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.”

Dari kedua ayat diatas, kita bisa mengetahui bahwa tugas Rasulullah saw ada tiga. Pertama, tilawatul aayaat: membacakan ayat-ayat Allah (Al-Qur’an). Kedua, tazkiyatun nafs: menyucikan jiwa. Dan ketiga, ta’limul kitaab wal hikmah: mengajarkan kitabullah dan hikmah.

Jelaslah bahwa salah satu diantara tiga tugas Rasulullah saw adalah tazkiyatun nafs “menyucikan jiwa”. Tazkiyatun nafs itu sendiri identik dengan penyempurnaan akhlaq, yang dalam hal ini Rasulullah saw bersabda tentang misi beliau diutus: “Sesungguhnya aku ini diutus hanya untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.”

Alasan kedua pentingnya tazkiyatun nafs adalah, karena tazkiyatun nafs merupakan sebab keberuntungan (al-falah). Dan ini ditegaskan oleh Allah SWT setelah bersumpah 11 kali secara berturut-turut, yang tidaklah Allah bersumpah sebanyak ini secara berturut-turut kecuali hanya di satu tempat, yaitu dalam QS Asy-Syams: 1-10:

“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (potensi) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”

Kemudian alasan ketiga pentingnya tazkiyatun nafs adalah, karena perumpamaan tazkiyatun nafs adalah seperti membersihkan dan mengisi gelas. Jika gelas kita kotor, meskipun diisi dengan air yang bening, airnya akan berubah menjadi kotor. Dan meskipun diisi dengan minuman yang lezat, tidak akan ada yang mau minum karena kotor. Tetapi jika gelasnya bersih, diisi dengan air yang bening akan tetap bening. Bahkan bisa diisi dengan minuman apa saja yang baik-baik: teh, sirup, jus, dan sebagainya.

Demikian pula dengan jiwa kita. Jika jiwa kita bersih, siap menampung kebaikan-kebaikan. Tetapi jika jiwa kita kotor, tidak siap menampung kebaikan-kebaikan sebagaimana gelas kotor yang tidak siap disi dengan minuman yang baik dan lezat.

Sarana-sarana Penyucian Jiwa

Untuk melakukan tazkiyatun nafs, yang meliputi takhalliy (membersihkan jiwa kita dari akhlaq yang tercela) dan tahalliy (menghiasi jiwa kita dengan akhlaq yang terpuji), kita memerlukan berbagai macam cara atau sarana (wasail), yang kita sebut sebagai wasailut tazkiyah “sarana-sarana penyucian jiwa”. Apakah sarana-sarana itu?

Sarana-sarana itu tidak lain adalah ibadah-ibadah kita: sholat, shaum, zakat dan infaq, haji, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan sebagainya. Semua bentuk ibadah tersebut merupakan wasailut tazkiyah – membersihkan jiwa dan menumbuhkan akhlaq yang terpuji.

Sebagai gambaran singkat bagaimana ibadah-ibadah kita bisa membersihkan jiwa kita, mendidik jiwa kita, dan menumbuhkan akhlaq yang terpuji, mari kita lihat hakikat ibadah-ibadah tersebut.

Tentang sholat, Allah SWT berkata, “Dan tegakkanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar.” (QS Al-Ankabut: 45). Ternyata, hikmah diperintahkannya sholat adalah untuk mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar, yang dengan kata lain berarti membangun akhlaq kita.

Tentang puasa (shaum), Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang selama berpuasa tidak mampu menahan diri dari perkataan dan perbuatan yang buruk serta keji, maka Allah sama sekali tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR Al-Bukhari).

Beginilah hakikat puasa, yang tidak lain adalah menahan nafsu kita, dalam rangka untuk menyucikan nafsu kita dan membangun akhlaq kita.

Tentang zakat, Allah SWT berfirman, “Ambillah dari harta benda mereka bagian zakatnya untuk membersihkan harta benda mereka dan untuk menyucikan jiwa mereka.” (QS At-Taubah: 103).

Inilah ternyata hikmah dari zakat, yaitu untuk membersihkan harta kita, membersihkan jiwa kita dari sifat kikir dan menumbuhkan sifat dermawan.

Bahkan tentang infaq dan sedekah secara umum, Allah SWT berfirman, “Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan dirinya.” (QS Al-Lail: 18).

Jelas sekali dalam ayat ini ditegaskan bahwa hikmah berinfaq dan bersedekah adalah untuk membersihkan diri, menyucikan jiwa.

Kemudian tentang haji, Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan-bulan itu (yakni bulan-bulan haji) akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (berkata keji dan jorok), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.” (QS Al-Baqarah: 197).

Subhanallah, ternyata ibadah hajipun didesain untuk bisa melatih kita mengendalikan hawa nafsu kita, dalam rangka untuk menyucikan jiwa kita dan membangun akhlaq kita.

Demikian juga dengan ibadah-ibadah yang lain, tidak lain merupakan wasailut tazkiyah, seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan sebagainya. Semua bentuk ibadah tersebut akan membersihkan jiwa dan menumbuhkan akhlaq yang terpuji.


Sumber: Wawasan Islam
Red: Randy

Read More »

Serial 16 Alam Jin: Setan Tidak Bisa Menguasai Hamba Allah yang Sholeh

0 komentar
Serial-serial sebelumnya telah menjelaskan mengenai kemampuan luar biasa dari jin dan setan. Kali ini, kita akan melihat kelemahan-kelemahan jin dan setan. 

Di antara kelemahan setan adalah mereka tidak bisa menguasai hamba Allah yang sholeh yang bagus iman dan akidahnya.Dan ingat, tipu daya setan itu lemah,


إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

“Sesungguhnya tipu daya syaitan itu lemah” (QS. An Nisa’: 76).

Sejatinya, setan tidak diberikan kuasa oleh Allah untuk memaksa manusia pada kesesatan sebagaimana disebutkan dalam ayat,

إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ وَكَفَى بِرَبِّكَ وَكِيلًا

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhan-mu sebagai Penjaga.” (QS. Al Isra’: 65).

وَمَا كَانَ لَهُ عَلَيْهِمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يُؤْمِنُ بِالْآَخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِي شَكٍّ

“Dan tidak adalah kekuasaan iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu.” (QS. Saba’: 21).

Yang dimaksud dengan ayat di atas adalah setan tidak punya jalan untuk menguasai orang-orang beriman. Dalam ayat lain juga disebutkan,

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (39) إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (40)

“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. kecuali hamba-hamba Engkau yang ikhlas di antara mereka.” (QS. Al Hijr: 39-40).

Setan hanyalah bisa menguasai orang-orang yang ridho pada kekafiran. Dalam surat Al Hijr selanjutnya disebutkan,

إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (QS. Al Hijr: 42).

Dalam surat An Nahl disebutkan pula,

إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ

“Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.” (QS. An Nahl: 100).
Kuasa yang diberikan pada setan hanyalah untuk menyesatkan dan menghasung manusia untuk berbuat kekafiran dan kesyirikan sebagaimana yang Allah firmankan,

أَلَمْ تَرَ أَنَّا أَرْسَلْنَا الشَّيَاطِينَ عَلَى الْكَافِرِينَ تَؤُزُّهُمْ أَزًّا

“Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengirim syaitan-syaitan itu kepada orang-orang kafir untuk menghasung mereka berbuat maksiat dengan sungguh-sungguh?” (QS. Maryam: 83).

Penguasaan setan pada setiap pengikutnya senyatanya tidaklah ada hujjah dan pendukung sama sekali. Para pengikut setan tersebut hanyalah mengikuti ajakan setan dan itu sesuai dengan hawa nafsu mereka.

Hanya Allah yang memberi taufik.


Referensi:
‘Alamul Jin wasy Syaithon, Syaikh Prof. Dr. ‘Umar bin Sulaiman bin ‘Abdullah Al Asyqor, terbitan Darun Nafais, cetakan kelimabelas, tahun 1423 H.

Selesai disusun di pagi hari 7 Rabi’uts Tsani 1435  H @ Pesantren Darush Sholihin, Panggang-Gunungkidul.
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Muslim.Or.Id

Read More »

Aasiya : Aku Pilih Islam, Saya Tidak yakin Dengan Hindu, Membingungkan

0 komentar
Aasiya Inaya, dilahirkan dalam lingkungan keluarga yang menganut agama Hindu  yang meyakini bahwa Tuhan itu ada dalam berbagai wujud mulai dari air, sungai, batu sampai pepohonan. 

Oleh sebab itu, Asiya mengaku bangga sebagai penganut politheis, yang meyakini bahwa semua obyek ciptaan Tuhan layak disembah karena menurutnya, di setiap benda ada bagian Tuhan di dalamnya. 

Tapi keyakinan Aasiya mulai berubah ketika ia mengenal Islam, yang mengawali perjalanan panjangnya menjadi seorang Muslimah. Sebelum memutuskan mengucapkan dua kalimah syahadat, Aasiya mengalami pergumulan jiwa yang hebat. Di satu sisi ia mengakui kebenaran Islam, tapi sisi hatinya yang lain masih membuatnya ragu menjadi seorang Muslim.

“Saya pertama kali mengenal Islam di sekolah menengah atas. Mayoritas teman-teman sekelas saya adalah Muslim dan setiap waktu istirahat kami biasa berdiskusi tentang Islam, utamanya karena propaganda anti-Islam yang dilancarkan organisasi-organisasi Hindu di India pasca serangan 11 September dan kerusuhan di Gujarat,” kata Aasiya.

Ia melanjjutkan,”Sepanjang pembicaraan, mereka (teman-teman Muslim Aasiya) berusaha untuk meluruskan berbagai pandangan-pandangan saya yang salah tentang agama monoteis, hak perempuan, status mereka dan berbagai mitos tentang Islam yang klise.”

“Tapi, upaya mereka tidak begitu meyakinkan saya. Saya tetap memegang teguh keyakinan saya dan tetap bangga sebagai penganut politheis,” tukas Aasiya.

Meski demikian, ia mengakui bahwa sikap anti-Muslimnya agak berkurang setelah mendengar penjelasan dari teman-temannya yang Muslim. “Saya mulai merasa tersentuh dengan penderitaan mereka, bagian dari masyarakat kami, yang harus termarginalkan hanya karena ingin menjalankan ajaran agama mereka.

Pandangan-pandangan saya pun jadi agak sekular …” sambung Aasiya.
Tapi semua itu belum menggerakkan hati Aasiya untuk memeluk agama Islam.

Aasiya mulai beralih ke kelompok Arya Samaj, sebuah kelompok penganut agama Hindu yang keluar dari mainstream Hinduisme.

Kelompok ini meyakini bahwa Hinduisme adalah agama monoteis dan tidak mengajarkan umatnya untuk menyembah berhala. Setelah menjadi bagian kelompok ini, Aasiya tidak lagi menyembah banyak benda, ia melakukan ritual Arya Samaj dan jadi rajin ke kuil.

Setelah beberapa waktu menjalani ritual Arya Samaj, Aasiya menemukan bahwa keyakinan ini juga memiliki banyak cacat dan kekurangan. “Saya merasa kembali berada di sarang laba-laba yang sama, dimana ritual dan penyembahan terhadap api menjadi bagian integral keyakinan itu, sama seperti keyakinan yang saya anut dahulu,” paparnya.

“Tapi saya menyebut itu semua sebagai langkah panjang, sebelum akhirnya saya sampai pada keputusan untuk memeluk agama Islam,” ujar Aasinya.

“Kejelasan tentang Islam mulai saya rasakan begitu kuat ketika saya menjadi mahasiswa fakultas hukum. Ketika itu saya mengikuti kuliah tentang hukum keluarga dalam agama Hindu dan Islam, mulai dari hukum perkawinan, perceraian dan urusan keluarga lainnya.”

“Saya menemukan bahwa hukum keluarga dalam agama Hindu banyak memiliki celah kelemahan karena beragamnya aturan terkait masalah teknis, perbedaan pendapat, sehingga hukum keluarga dalam agama Hindu kerap membingungkan dan tidak pasti. Di sisi lain, hukum keluarga yang diatur oleh Islam, sangat jelas, cermat dan pasti,” tutur Aasiya.

Sejak perkualiahan itu, pandangan Aasiya terhadap Islam berubah total. Selama ini, Aasiya memandang Islam sebagai agama yang kaku dan keras. “Saya melihat umat Islam sebagai umat yang statis, hidup berdasarkan pada masa lalu sementara dunia terus berkembang. Buat saya, apa yang diyakini umat Islam tidak masuk akal, tidak praktis, kejam dan ketinggalan jaman,” kenang Aasiya mengingat pandangan-pandangannya terhadap Islam di masa lalu.

“Tapi, sejak perkuliahan itu, pendapat saya langsung berubah hanya dalam satu malam. Apa yang selama ini saya anggap statis ternyata sebuah kestabilan. Ini membuat rasa ingin tahu saya tentang Islam memuncak dan saya menghabiskan waktu berjam-jam di internet untuk bicara dengan teman-teman saya yang dulu menjelaskan tentang Islam pada saya,” papar Aasiya.

Selain bertanya pada teman-temannya yang Muslim, Aasiya juga mencari berbagai informasi tentang Islam di internet dan aktif mengikuti berbagai forum diskusi. Pengetahuan Aasiya yang mulai bertambah tentang Islam mempengaruhi sikap dan pandangan Aasiyah tentang Islam ketika ia berkumpul dan membahasnya dengan sesama temannya yang beragama Hindu.

Perubahan sikap dan pandangan Aasiya, tentu saja tidak mendapat tanggapan negatif dari sahabat-sahabatnya yang Hindu.

“Mereka menyebut bahwa saya sudah mengalami ‘cuci otak’ yang ingin mengubah penganut Hindu menjadi pemeluk Islam,” kata Aasiya tentang pendapat teman-teman Hindunya.

Saat itu, Aasiya mengaku khawatir dan takut melihat ketidaksetujuan teman-temannya tentang Islam dan ia merasa telah mengkhianati teman bahkan keluarganya. Tapi keyakinan Aasiya akan kebenaran Islam justeru makin kuat dan ia merasa tidak bisa lari dari kebenaran itu.

“Sampai kapan orang bisa menghindar dari kebenaran? Anda tidak bisa hidup dalam kebohongan dan menerima kebenaran membutuhkan keberanian seperti yang disebutkan dalam ayat Al-Quran dalam surat An-Nisaa;  

‘ Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan’.”

“Hari itu, semua rasa kekhawatiran saya lenyap. Saya merasa, jika saya tidak pernah memeluk Islam dan selamanya saya tidak akan pernah memiliki Islam, saya akan tetap dicengkeram oleh kompleksnya kehidupan yang materialistis ini, dimana hawa nafsu membuat kita enggan melakukan hal-hal yang benar,” tandas Aasiya.

Aasiya akhirnya memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat dan resmi menjadi seorang Muslim. “Alhamdulillah, hari ini saya menjadi seorang Muslimah. Saya berusaha belajar dan terus belajar al-Quran dan Sunnah Rasulullah Muhammad Saw. Insya Allah, saya akan mengikuti sunah-sunahnya dengan lebih baik. Dengan bantuan beberapa teman dan sebuah organisasi Islam, saya belajar salat lima waktu,” tuturnya.

Persoalan Aasiya sekarang adalah memberitahukan tentang keislamannya pada teman-teman Hindunya dan orangtuanya. “Cepat atau lambat, saya pasti akan memberitahu mereka. Saya berharap mereka menghormati keputusan saya dan saya berdoa, semoga Allah swt memberikan kekuatan sehingga saya bisa istiqomah dengan keputusan saya menjadi seorang Muslim,” tandas Aasiya.


(ln/readislam)
Sumber   :  Era Muslim

Read More »

Kiamat, yang Ditanya Tidak Lebih Tahu daripada Si Penanya

0 komentar



Ilustrasi Kiamat 490x326 Kiamat, yang Ditanya Tidak Lebih Tahu daripada Si Penanya
MANUSIA sering bertanya-tanya mengenai waktu kiamat.

Mereka melontarkan pertanyaan kepada Rasulullah saw, dan datanglah jawaban dari Zat yang menurunkan Al-Qur’an bahwa sesungguhnya kiamat itu adalah hal yang gaib, dan waktu terjadinya hari kiamat adalah salah satu ilmu khas Allah.

Firman Allah :

Manusia bertanya kepadamu mengenai hari kebangkitan. Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kebangkitan itu hanya di sisi Allah.” Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari kebangkitan itu sudah dekat waktunya.
(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kebangkitan : Kapankah terjadinya? Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebutkan (waktunya)? Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya). Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut akan (hari kebangkitan).”  

Pengetahuan semacam ini tak diketahui oleh malaikat dan nabi. Karena itu, Rasulullah saw menjawab saat Jibril bertanya kepadanya mengenai hari kiamat, “Tidaklah yang ditanya lebih tahu dari si penanya.”

Jadi, upaya membahas masalah ini dan menduga kiamat akan terjadi pada tahun tertentu secara pasti berarti membuat dusta atas nama Allah tanpa pengetahuan.

Orang yang melibatkan diri dalam masalah ini menyalahi manhaj (jalan) qurani dan nabawi yang membimbing manusia untuk meninggalkan pembahasan masalah kiamat, serta mengajak manusia untuk mempersiapkan diri menyongsong kiamat dengan iman dan amal saleh.

Orang-orang yang meneliti masalah kaiamat menduga bahwa mereka dapat mengetahui apa yang tidak diketahui Rasulullah SAW dan jibril. Penulis mengatakan kepada mereka : seyoganya kalian meneladani Rasulullah SAW, sahabat dan para ulama sepanjang sejarah. Jikalau dalam pengatahuan kapan terjadinya kiamat terdapat kemaslahatan dan kebaikan bagi manusia, Allah tentu akan menginformasikannya kepada manusia. Tetapi, Allah tidak melakukannya, dan di situlah letak kemaslahatan bagi manusia.

Seyogyanya juga generasi mendatang mengambil pelajaran dari genarasi sebelumnya. Sebagian generasi masa lampau menyibukkan diri dalam masalah kiamat. Mereka menentukan waktu tertentu terhadap kiamat atau sebagian tanda-tanda yang menunjukkan waktu kiamat telah dekat. Lalu saat waktu tersebut tiba, tidak terjadi sesuatu apapun, baik kiamat atau tanda kiamat.

Di antara mereka ini adalah ath-Thabari, semoga Allah mengampuninya. Beliau menyimpulkan dari beberapa nas bahwa dunia akan berakhir setelah lima ratus tahun dari masa Nabi.



[Sumber: "Ensiklopedia" Kiamat, Karangan: Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar, Penerbit Serambi]
Islam Pos 

Read More »

Harus Sabar Dalam Menjalankan Ketaatan

0 komentar
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Para ulama membagi sabar menjadi tiga bagian; Pertama, sabar di atas ketaatan. Kedua, sabar dari apa saja yang Allah haramkan. Ketiga, bersabar saat tertimpa takdir/ketetapan Allah yang dirasa menyakitkan (musibah).

Jika makna sabar secara bahasa adalah menahan diri. Yakni menahan diri dari apa yang tdak disukai jiwanya. Maka pada bagian kedua & ketiga kita akan memakluminya, yakni sabar (menahan diri) dari menuruti syahwat dan dorongan nafsu; dan sabar (menahan diri) dari mengeluh dan mengumpat atas musibah yang Allah takdirkan atas dirinya, lalu ia ridha kepadanya dan berharap pahala kepada Allah atasnya. Kemudian dalam ketaatan kok kita harus sabar, kenapa?

Sebabnya, karena ketaatan dirasa berat oleh jiwa & fisik seseorang sehingga ia merasa kesulitan menjalankannya. Apalagi kalau fisiknya lemah dan capek, maka beratnya menjalankan ketaatan semakin terasa. Di sisi lain, ketaatan terkadang membutuhkan modal duit seperti zakat, infak, haji dan semisalnya maka menjalankan ketaatan-ketaatan ini menjadi beban lebih bagi jiwa manusia. Karena tabiat dasar manusia itu pelit, sayang & eman-eman terhadap apa yang dipunyainya, khususnya harta yang telah diusahakannya. Karenanya seseorang dalam menjalankan ketaatan harus mampu melawan apa-apa yang tidak disukai jiwannya, ia harus mampu mengalahkan kecenderungan jiwanya yang ingin berleha-leha, malas, tidak mau ada beban, dan ingin menikmati kesenangan-kesenangan.

. . . dalam menjalankan ketaatan terdapat sesuatu yang berat atas jiwa dan fisik kita. Karenanya menjalankannya membutuhkan kesabaran dan ketekunan. . .
Ringkasnya, dalam menjalankan ketaatan terdapat sesuatu yang berat atas jiwa dan fisik kita. Karenanya menjalankannya membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Siapa yang mampu bersabar, atas ketaatan ini dan ditambah dengan dua macam kesabaran lainnya di atas maka ia akan mendapatkan keberuntungan hidup dan pahala melimpah.

Allah SubhanahuWaTa'alaberfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran: 200)

Al-Falah adalah keberuntungan, kebahagiaan, dan kesuksesan di akhirat. Jalan yang menghantarkan ke sana adalah melazimi kesabaran, yaitu menahan diri atas perkara yang tidak disuka. Bentuknya, meninggalkan maksiat-maksiat, sabar atas musibah, dan sabar atas perintah-perintah yang berat ditanggung jiwa. Allah memerintahkan bersabar atas semua itu. (Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Sa’di dalam Tafsirnya, Taisir al-Karimi al-Rahman)

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Al-Zumar: 10)

Maksudnya pahala tanpa batasan, tidak bisa dihitung dan dijumlah karena banyaknya. Ini berlaku atas tiga macam kesabaran secara keseluruhan. Semua ini merupakan keutaaan sabar dan kedudukannya di sisi Allah. Sabar membantu menyukseskan semua urusan kita. 



Oleh          : Badrul Tamam
Sumber    : Voa-Islam

Read More »

Dzikrul Maut,Cukuplah Kematian Sebagai Nasehat

0 komentar
Barang kali kita sering mendengar atau menjumpai fenomena, orang yang datang kepada orang yang diseganinya untuk meminta nasehat, meskipun hanya satu kata. Tentunya dengan harapan bahwa nasehat itu akan berguna baginya dalam hidup di dunia maupun akherat kelak. Lantas, apa kira-kira jawaban yang tepat, singkat dan padat untuk pertanyaan tersebut ?

Rosululloh Saw pernah bersabda : “Cukuplah kematian sebagai nasehat”

Ya, kematian … sebuah kata yang sangat tepat untuk mewakili jawaban atas semua permintaan nasehat dari seseorang. Kematian … satu kata yang singkat tapi sarat makna dan penuh dengan pelajaran dan hikmah.

Ketika disebut kata kematian maka yang terbetik di benak adalah berpisahnya ruh dengan jasad, berpindahnya seseorang dari semua kesenangan dunia menuju alam lain yang dia sendiri tidak tahu apakah menyenangkan atau sebaliknya dan proses awal seseorang menginjakkan kaki di alam akherat.

Sungguh mengerikan, rasa sakitnya bagaikan 70 kali sabetan pedang. Banyak orang berusaha berlari untuk menghindarinya. Mengharukan, banyak juga yang meneteskan air mata menyaksikannya. Menegangkan, karena seseorang tidak tahu kemana arah kembalinya. Apakah ke surga ataukah ke neraka … ??

Lalu, kapankah kita mati ? … dan dimana ?

Alloh menurunkan jawaban akan pertanyaan ini dari atas langit tingkat 7 dengan firman-Nya :

 “Setiap jiwa pasti merasakan kematian” (QS. Ali Imron : 185)

“Dan tidak ada satu jiwapun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati” (QS. Luqman : 34)

“Dan datanglah sakarotul maut dengan benar. Itulah sesuatu yang dahulu kamu berusaha lari darinya” (QS. Qof : 19)

Di dalam ayat-ayat diatas, Alloh tidak menyebutkan waktu kapan seseorang akan meninggal dan di mananya. Karena, jika seseorang mengetahui waktu dan tempat dia akan meninggal dikhawatirkan dia akan berpangku tangan dan hanya mau berbuat baik ketika hari terakhir dia akan meninggal itu. Jadi, mengetahui waktu dan tempat meninggal itu tidaklah penting, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kita bersiap diri menyambut kematian dan kehidupan setelahnya.

Ya, kita harus senantiasa bersiap dan berkemas untuk menghadapi kematian. Karena penyesalan itu hanya ada di kemudian hari. 

Alloh subhanahu wa Ta`ala mengingatkan kita tentang hal ini dengan firman-Nya :

“Dan infakkanlah apa yang telah Kami rizkikan kepada kalian, sebelum datang kematian kepada salah seorang diantara kalian, lantas dia berkata : “Wahai Robbku, kenapa Engkau tidak tangguhkan kematianku barang sebentar, sehingga aku bisa bersedekah dan bisa menjadi orang sholih ?”. Dan Alloh tidak akan pernah menangguhkan satu jiwapun jika telah datang ajalnya. Dan Alloh maha mengetahui apa yang kalian kerjakan” (QS. Al Munafikun : 10-11).

Jika fenomena kematian adalah seperti itu, maka janganlah kita tertipu oleh dunia dengan segala kesenangannya, karena semuanya akan musnah, hilang dan usang. Jangan tertipu dengan dunia karena kita pasti akan meninggalkannya. Jangan tertipu dengan dunia, karena dia hanya akan mempedaya dan menghancurkan kita. Jangan tertipu dengan dunia, karena kematian pasti datang untuk menghancurkan semua angan dan kesenangan kita.

Jangan tunda taubat … jangan pula tunda amal ketaatan dan kebajikan, karena roda dunia akan terus berputar dan saat itu pasti akan tiba. Di dalam hadits dari Ibnu Umar ra yang berkata : Rosululloh Saw pernah memegang pundakku seraya bersabda : “Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang menyeberang jalan”. Ibnu Umar sendiri pernah berkata : “Jika kamu di sore hari, maka janganlah kamu tunggu datangnya pagi, dan jika kamu di pagi hari, maka janganlah kamu tunggu datangnya sore.  Manfaatkanlah waktu sehatmu untuk menghadapi masa sakitmu, dan manfaatkanlah masa hidupmu untuk menghadapi masa kematianmu” (HR. Bukhori).

Abu Huroiroh ra juga meriwayatkan bahwa Rosululloh Saw bersabda : “Bersegeralah kalian melakukan amal kebaikan sebelum datang 7 perkara. Tidak ada yang kalian tunggu melainkan kefakiran yang melalaikan, atau kekayaan yang membuat orang melampaui batas, atau waktu sakit yang merusak, atau masa tua yang membuat lemah, atau kematian yang akan segera datang, atau Dajjal yang merupakan hal ghaib yang paling buruk untuk ditunggu atau kiamat, dan kiamat itu sangat mengerikan dan sangat pahit” (HR. Tirmidzi, dan beliau berkomentar : hadits hasan ).

Semoga dengan mengingat kematian hati kita menjadi lunak, kesadaran kita senantiasa terjaga sehingga kita segera bangkit dari keterpurukan dosa dan segara beramal sholih sebelum semuanya terlambat. Dan jadilah kematian sebagai nasehat terbaik bagi manusia.

Wallahu a`lam …




[Ashim Al Bassam/voa-islam.com]
Sumber   : Voa-Islam


Read More »

Bahaya Merasa Tidak Butuh Kepada Allah

0 komentar
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Butuh kepada Allah merupakan kondisi semua makhluk dan sifat melekat padanya. Mereka semua butuh kepada karunia Allah, nikmat-Nya, kebaikan-Nya, pertolongan-Nya, perlindungan-Nya, dukungan-Nya, ampunan-Nya & keridhaan-nya.

Setiap manusia yang ada di timur sampai barat butuh kepada-Nya. Mereka butuh kemurahan Allah agar tetap memberi mereka kesempatan hidup, tempat tinggal di bumi-Nya, menghirup udara-Nya, memberi fungsi anggota tubuh, rizki, dan selainnya.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman tentang kondisi ini,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ * إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ * وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ

“Hai manusia, kamulah yang butuh kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.” (QS. Faathir: 15-17)

Imam Al-Syaukani berkata, “maksudnya: mereka butuh kepada-nya dalam semua urusan Dien dan dunia mereka. Mereka butuh kepada-Nya secara umum.”

Allah Ta’ala berfirman dalam hadits Qudsi:

يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلَّا مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلَّا مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُونِي أَكْسُكُمْ يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ

“Wahai hamba-hambaKu sesungguhnya kalian semua itu sesat kecuali orang yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah kepadaku niscaya Kuberi hidayah kalian. Wahai hamba-hamba-Ku sesungguhnya kalian semua itu orang lapar kecuali orang-orang yang Aku beri makan. Maka mintalah makan kepadaKu niscaya Aku beri makan kalian. Wahai hamba-hambaKu sesungguhnya kalian semua orang-orang yang telanjang kecuali orang yang aku beri pakaian maka mintalah pakaian padaKu niscaya Aku beri pakaian kalian. Wahai hamba-hambaKu sesungguhnya kalian semua melakukan kesalahan di waktu malam dan siang, sedangkan Aku mengampuni segala dosa semuanya, maka mintalah ampun kalian semua padaKu niscaya Aku ampuni kalian.” (HR. Muslim)

Hadits ini mengabarkan tentang kondisi awal manusia, semuanya dalam keadaan jahil, sesat, kelaparan, telanjang, dan banyak dosa. Kemudian Allahlah yang memberikan ilmu kepada mereka, menunjuki mereka, memberikan makanan dan pakasian serta mengampuni dosa-dosa mereka sehingga mereka tidak habis binasa.

Sumber Penyimpangan

Tidak semua menusia mengakui sifat ini dan menyadari kebutuhannya kepada Allah yang sangat. Ada sebagian menyombongkan diri dan merasa tidak butuh kepada Allah hanya karena mereka memiliki fisik sehat lagi kuat, mampu bekerja sehingga menghasilkan duit yang mencukupi hidupnya, memiliki kekayaan melimpah, menduduki jabatan tinggi dan  atau ia sebagai penguasa di satu belahan bumi memiliki kekayaan. Ia enggan mencari kecintaan Allah dan keridhaan-Nya. Biasanya, manusia semacam ini cenderung menyimpang dan menyombongkan diri sehingga tidak mau tunduk & taat kepada Allah, membuang syariat-Nya, dan melampui batasanya sebagai hamba.

Allah telah mengabarkan manusia jenis kedua dalam firman-Nya,

كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى أَنْ رَآَهُ اسْتَغْنَى إِنَّ إِلَى رَبِّكَ الرُّجْعَى

“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali (mu).” (QS. Al-Alaq: 6-8)

وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى

“Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (QS. Al-Lail: 8-10)

إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ آَيَاتِنَا غَافِلُونَ أُولَئِكَ مَأْوَاهُمُ النَّارُ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Yunus: 7-8)
Mereka akan menemui kehinaan dan kesengsaraan di kehidupan akhirat; bahkan terkadang kehinaan itu disegerakan juga dalam kehidupan dunia.


وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya kabulkan doa kalian. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina".” (QS. Ghaafi: 60)
Ada orang merasa dirinya lemah dan membutuhkan bantuan Dzat lebih perkasa, namun ia lari dari Allah dan datang kepada sesama makhluk yang lemah. Ia tidak mengenal Allah dengan baik sehingga ingkar terhadap Rububiyyah-Nya. Ia terjerumus ke dalam kesyirikan. Ia tak mendapatkan apa yang dikehendakinya kecuali dengan Izin Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Allah sebutkan tentang orang-orang musyrikin yang menyembah berhala-berhala agar mereka memudahkan jalan rizkinya.

إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta.  Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya lah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al-Ankabut: 17)

Allah terangkan tentang orang yang beribadah kepada Allah di atas keraguan, jika mendapat kemakmuran rizki maka dia tetap di atas ibadah. Sebaliknya, jika mendapat kerugian materi maka ia berpaling darinya & mencari selain Allah untuk diminta. Orang ini menemui kerugian dunia-akhirat.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُ وَمَا لَا يَنْفَعُهُ ذَلِكَ هُوَ الضَّلَالُ الْبَعِيدُ

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat.  Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. Ia menyeru selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudarat dan tidak (pula) memberi manfaat kepadanya. Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 11-12)

Apakah Allah Rugi dengan Pengingkaran?

Tidak, Allah maha kaya tidak butuh kepada makhluk-Nya, tidak butuh pula kepada ibadah dan ketaatan mereka.

وَقَالَ مُوسَى إِنْ تَكْفُرُوا أَنْتُمْ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا فَإِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Dan Musa berkata: "Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Ibrahim: 8)

Allah berfirman dalam hadits Qudsi:

يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا

“Wahai, hamba-hamba-Ku. Seandainya yang pertama dan yang terakhir dari kalangan jin dan manusia semua merupakan setaqwa-taqwa makhluq di antara kalian, tidaklah yang demikian itu menambah sedikitpun kekuasaan-Ku. Dan seandainya yang pertama dan yang terakhir dari kalangan jin dan manusia merupakan seburuk-buruk makhluq di antara kalian, tidaklah yang demikian itu mengurangi sedikitpun kekuasaan-Ku.” (HR. Muslim)

Semua itu karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala Maha kaya dan sudah berkecukupan sehingga tak butuh kepada semua makhluk-Nya. Dia tidak berhajat kepada usaha makhluk untuk memberikan kemanfaat bagi-Nya. Keshalihan mereka semua tidaklah menambah kekuasaan-Nya sedikitpun. Sebaliknya kebejatan dan keingkaran mereka tidak mengurangi kekuasaan barang sedikitpun.

Kesempurnaan kekayaan Allah mengharuskan ketaatan makhluk-Nya tidakmembawa manfaat bagi-Nya. Sebaliknya, kedurhakaan para ahli maksiat tidak membawa madharat sedikitpun bagi-Nya. Allah Mahakaya dan Mahaterpuji. Makhluk lah yang butuh kepada ibadah mereka dan ampunan atas dosa-dosa mereka. Wallahu A’lam.





Oleh             : Badrul Tamam
Sumber       ; Voa-Islam

Read More »